Artikel Terbaru

Beato Luigi dan Beata Maria: Teladan Kesucian Hidup Berkeluarga

Beato Luigi Beltrame Quattrocchi dan Beata Maria Corsini.
[rezairezairezai.com]
Beato Luigi dan Beata Maria: Teladan Kesucian Hidup Berkeluarga
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pasutri ini telah mewariskan tradisi hidup rohani yang sangat berharga kepada anak-anaknya, Gereja, dan dunia. Keluarga menjadi sel dasar bagi masyarakat.

Luigi dan Maria bergandeng tangan, bersiul ria, menapaki jalan menuju puncak Gunung Vesuvio, di Timur Napoli, Italia. Sesekali mereka beradu pandang, lalu tersenyum. Luigi dan Maria berjalan bersama empat anak mereka. Mereka memberi tugas kepada setiap anak. Ada yang menjinjing keranjang makanan, membawa wadah air, serta lampit. Dengan banyak bawaan anak-anak beradu lari mencapai puncak gunung. Luigi dan Maria tersenyum melihat polah tingkah si buah hati. Anak-anak bebas berlarian menikmati keindahan alam.

Tiba di puncak, keluarga ini menggelar lampit, duduk, dan makan bersama. Tak lupa mereka bersyukur atas semua karunia Tuhan. Makan bersama merupakan kesempatan berbagi pengalaman dan saling memberi masukan.

Setelah itu, mereka berjalan-jalan menikmati keindahan Gunung Vesuvio yang pernah meletus dan menghancurkan Kota Pompeii, sebuah kota zaman Romawi kuno. Dari atas gunung, mereka dimanjakan dengan hawa segar sambil menyelami keindahan Kota Campania, Italia.

Itulah salah satu bentuk kebersamaan keluarga Quattrocchi. Kala hidup mulai terasa bosan, mereka menyempatkan waktu berekreasi. Dalam semangat kebersamaan, mereka saling mendoakan dan mendukung.

Bina Perkawinan
Luigi Beltrame berasal dari keluarga sederhana. Anak pertama dari delapan bersaudara pasangan Carlo Beltrame dan Francesca Beltrame Vita ini sejak kecil biasa hidup susah. Orangtuanya petani biasa, demi mengurangi beban keluarga, ia diadopsi pamannya, Luigi Quattrocchi. Karenanya, ia mendapat nama Quattrocchi.

Kelahiran Catania, Italia, 12 Januari 1880 ini dibesarkan di Urbino, Provinsi Pesaro, Italia. Meski anak angkat, ia diperlakukan layaknya anak kandung karena tabiatnya baik. Ia tak banyak mengeluh, bahkan justru lebih banyak bekerja. Kendati terpisah, ia tetap membangun hubungan baik dengan orangtua kandungnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*