Artikel Terbaru

Romo Peter C. Aman OFM, Dosen Moral Kristiani STF Driyarkara Jakarta: Pilkada dan Partisipasi Transformatif

Peter C. Aman OFM.
[HIDUP/Stefanus P. Elu]
Romo Peter C. Aman OFM, Dosen Moral Kristiani STF Driyarkara Jakarta: Pilkada dan Partisipasi Transformatif
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) merupakan momentum menarik untuk direfleksikan. Selain karena riuh-rendah dan hiruk-pikuk proses yang menyertainya, masyarakat juga menaruh harapan besar pada proses politik di tingkat daerah itu. Harapan itu selalu dirumuskan secara normatif, yakni kesejahteraan masyarakat sebagai buah dari pembaruan pemegang tampuk kekuasaan (gubernur, bupati, dan wali kota) serta kebijakan-kebijakan baru yang berpihak kepada kesejahteraan masyarakat tercapai.

Pelayan Umum
Proses Pilkada adalah suatu sistem politik menjaring, menyaring, dan menemukan pemimpin yang mampu memimpin daerah atau kota ke arah tercapainya kesejahteraan masyarakat. Dalam spirit etika politik yang luhur, menjadi pemimpin (daerah atau kota) berarti menjalankan amanat rakyat untuk kemajuan daerah. Ukurannya adalah pencapaian kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dalam berbagai bidang kehidupan.

Pemerintah yang dihasilkan suatu Pilkada adalah pelayan masyarakat. Ia menerima mandat rakyat serta menjalankan dengan tepat agar kesejahteraan umum atau keadilan sosial tercapai. Bukan sekadar eufemisme kalau dikatakan seorang pejabat pemerintah merupakan pelayan. Ia dipilih dan diangkat untuk bekerja, melayani, dan memenuhi kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Seorang pemimpin dituntut memiliki kualitas moral-etis dan spiritual, sosialkultural dan politik, ekonomi, serta ekologi. UU Pilkada menjabarkan ada sekitar 20 syarat atau kualifikasi yang mesti dipenuhi seorang calon pemimpin daerah atau kota. Dari perspektif etika politik, menjadi pemimpin di daerah atau kota, selain untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, juga untuk mengabdikan diri bagi banyak orang.

Selama kampanye kita selalu mendengar jargon politis, misal menjadi pelayan masyarakat, bekerja untuk rakyat. Jargon-jargon itu dirumuskan dengan indah, menarik, dan memikat. Bila demikian, Pilkada berarti proses politik demokratis yang lebih efektif untuk transformasi masyarakat secara kualitatif.

Kehidupan dan pelayanan kepada masyarakat mesti menjadi lebih baik dan benar. Pemimpin dipilih karena kualitas personal serta etis-sosial yang mumpuni. Karena itu, kepadanya dipercayakan mandat untuk bekerja bagi kepentingan rakyat. Menjadi pemimpin berarti menjadi pekerja dan pengurus kepentingan rakyat.

Seseorang menjadi pemimpin bukan hanya karena fakta bahwa ia terpilih dan dilantik, tetapi terutama karena ia bekerja dan mengabdikan dirinya untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. Ukuran keberhasilannya adalah kemakmuran rakyat, bukan pengaruh, dan perolehan pribadi yang semakin besar.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*