Artikel Terbaru

Suami Tinggalkan Keluarga

Suami Tinggalkan Keluarga
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh terkasih, saya pengurus Lingkungan. Tahun lalu, terjadi prahara di rumah tangga saya. Suami saya selingkuh dan hingga kini tinggal serumah dengan perempuan barunya. Saya tinggal bertiga dengan anak-anak. Mereka sudah bekerja dan selalu menguatkan saya. Apa saya harus melepaskan tanggungjawab sebagai pengurus Lingkungan? Bagaimana caranya mengatakan kepada umat Lingkungan? Dan bagaimana agar suami kembali dan berkumpul bersama kami lagi?

Fransiska Sumiatun, Palembang

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk individu sekaligus sosial. Sebagai makhluk individu seseorang dapat melaksanakan berbagai peran, seperti: anak, orangtua, suami-istri, anggota kelompok dan masyarakat. Sebagai bagian masyarakat, seseorang berinteraksi dan bergantung kepada orang lain. Namun ia bisa juga menjadi tempat bergantung orang lain.

Peran sebagai individu, idealnya sinkron dengan peran sosialnya. Namun peran sebagai individu kadang tak selaras dengan peran sosial, bahkan berbenturan atau bertolak belakang.

Bu Sum, peran Anda sebagai pengurus Lingkungan mengindikasikan Anda dapat berperan sosial dengan baik. Tak setiap orang bisa dan bersedia menjadi pengurus Lingkungan. Peran Anda sebagai pengurus Lingkungan juga menunjukkan Anda bisa berinteraksi sosial dengan baik. Namun tampaknya peran sosial Anda tak selaras dengan peran indvidu Anda sebagai istri. Suami meninggalkan rumah dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan.

Pertama, Anda tak perlu berhenti sebagai pengurus Lingkungan. Tanggung jawab itu sudah dipercayakan kepada Anda, sebaiknya laksanakan itu sampai tuntas. Jika langkah ini yang Anda ambil, tindakan ini akan mendukung kepentingan jangka panjang bagi diri sendiri yang akan mengarah kepada kebaikan yang lebih besar.

Kedua, suami “meninggalkan” rumah adalah masalah keluarga Anda sendiri. Tak perlu diceritakan kepada siapa pun. Juga tak perlu memberitahu kepada siapa pun situasi yang Anda hadapi. Hal itu cukup dibicarakan dengan anak-anak Anda, yang tampaknya cukup memahami keadaan, bahkan memberikan kekuatan kepada Anda. Ini adalah suatu hal yang baik. Anda dan anak-anak bersatu padu, saling mendukung. Anda menyatakan, anak-anak sudah bekerja. Mereka yang sudah bekerja tentu memiliki wawasan yang cukup luas, sehingga bila Anda membutuhkan orang untuk mencurahkan isi hati, lebih baik disampaikan kepada anak-anak.

Jika ada anggota Lingkungan yang bertanya dan mempermasalahkan keluarga Anda, jawablah dengan terus-terang dengan hal-hal yang Anda pikir dapat disampaikan kepada orang lain saja. Anda tak perlu berbohong, tapi Anda juga memiliki hak untuk menyimpan dinamika kehidupan Anda sendiri.

Ketiga, silakan membicarakan soal suami atau Bapak dengan anak-anak. Mereka yang telah dewasa bisa diajak untuk berembug dan mencari solusi atas situasi itu. Ada baiknya mereka juga diminta untuk mencari informasi keberadaan Bapak bersama perempuannya. Jika memungkinkan, mintalah anak-anak untuk menemui bapaknya.

Suami yang meninggalkan keluarga menunjukkan bahwa ia tak mencintai keluarganya lagi. Seseorang yang mencintai pada umumnya akan memberikan hal terbaik bagi orang yang dicintainya. Dengan meninggalkan keluarga, kepergian suami merupakan ekspresi egoisme diri bahwa dia hanya memikirkan kebutuhan pribadi, mencari kesenangan diri, dan tak bersedia untuk memberikan perhatian serta tanggung jawab kepada keluarga. Hal itu menunjukkan bahwa ia tak memiliki komitmen untuk tinggal bersama anak dan istrinya lagi.

Suami Anda adalah manusia dewasa, tentu sudah memikirkan konsekuensi perilakunya. Jika keberadaannya telah diketahui, Anda sebagai istri secara pribadi tak perlu memintanya pulang ke rumah. Biarkan anak-anak Anda saja yang mengambil tindakan itu, karena mereka memiliki hak untuk mengajak bapaknya pulang dan berkumpul dengan keluarga kembali.

Hal yang tak boleh dilupakan adalah memohon pertolongan Tuhan. Berdoalah untuk kesadaran suami Anda dan memohon kekuatan dalam mengarungi kehidupan. Berdasarkan pengalaman, banyak bukti yang menunjukkan, suami yang meninggalkan rumah akan kembali kepada keluarganya.

Y. Bagus Wismanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 6 Tanggal 5 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*