Artikel Terbaru

F.X. David Wijaya: Melawan Sunyi, Mengukir Prestasi

F.X. David Wijaya.
[NN/Dok.Pribadi]
F.X. David Wijaya: Melawan Sunyi, Mengukir Prestasi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comHidup baginya adalah kesunyian. Dari lima saudaranya, tiga orang termasuk dirinya tak bisa menangkap suara. Tapi ia yakin, Tuhan berkarya melalui dirinya yang terbatas.

Jelang pengujung November tahun lalu, Fransiskus Xaverius David Wijaya datang ke Gereja St Perawan Maria Regina Purbowardayan, Solo, Keuskupan Agung Semarang. Ia menaklukkan jalan sekitar 260 kilometer dari tempat tinggalnya di Surabaya, Jawa Timur menuju Solo. Ia datang untuk Misa, bertemu, dan berkumpul bersama kawan-kawannya, sesama penyandang tunarungu.

Hidup bagi David adalah kesunyian. Kondisi itu ia alami sejak lahir. Ternyata, anak kedua dari lima bersaudara itu tak sendiri merasakan sunyi dalam keluarganya. Satu kakak dan adiknya pun mengalami hal serupa. David masih menyimpan misteri itu dalam hatinya hingga kini. Mengapa hanya ia dan kedua saudarinya yang tak bisa mendengar?

David tak ingin terkungkung dengan pertanyaan itu. Baginya yang paling penting dan terus terngiang dalam sanubari adalah pesan orangtuanya. Bapak-ibunya selalu berharap kepada mereka agar berani dan percaya diri mengarungi kehidupan dan berelasi dengan orang lain. David melampaui harapan orangtuanya. “Saya bersyukur, dalam kondisi seperti ini masih dipilih Dia untuk melayani sesama.”

Inisiator Komunitas
Misa untuk penyandang tunarungu di Paroki Purbowardayan berlangsung tiap bulan. Kegiatan itu minimal terjadi sebulan sekali. Itu berarti tiap bulan David menaklukkan ratusan kilometer demi menjaga pijar rohani para pejuang sunyi seperti dirinya. Lewat grup Whatsapp, pria kelahiran Surabaya, 26 Mei 1973 ini, mengkoordinir para koleganya dari berbagai daerah untuk bersua di Solo. Seketika itu, tawa dan canda pecah di tengah mereka.

Di kota kelahirannya, David menjadi inisiator kelahiran komunitas “Perayaan Ekaristi Tunarungu Surabaya”. Petrus, demikian mereka menyebut akronim komunitas itu. David mengenang, rencana mengumpulkan para penyandang tunarungu se-Keuskupan Surabaya ia sampaikan kepada Bernadeta Tumirah. Kawannya itu merupakan guru di SLB B Dena Upakara Wonosobo, Jawa Tengah, sekaligus Koordinator Alumni Dena Upakara dan Don Bosco (Adeco).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*