Artikel Terbaru

St Maria Elisabetta Hesselblad (1870-1957): Suster Penggiat Ekumenisme

St Maria Elisabetta Hesselblad.
[ctv.com]
St Maria Elisabetta Hesselblad (1870-1957): Suster Penggiat Ekumenisme
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comLahir dari keluarga Lutheran taat, ia memutuskan pindah menjadi Katolik. Ia dikenal sebagai pioner gerakan persatuan Gereja.

Ernest Hemingway, penyair besar Amerika Serikat (AS), menarasikan Eropa sebagai panggung drama kemanusiaan paling kelam dalam sejarah. Dua Perang Dunia dan pemusnahan lebih dari enam juta orang Yahudi merupakan catatan yang abadi dalam ingatan manusia. Hitler, atas nama kemurnian ras, memberi titah untuk melenyapkan ras Yahudi dari Eropa. Dalam suasana kalang kabut, banyak orang Yahudi hijrah ke AS. Sebagian bersembunyi di celah-celah Eropa yang tak terjangkau bala tentara Hitler.

Di Roma, Italia, seorang suster memberikan dirinya sebagai pelindung bagi generasi Yahudi yang malang itu. Suster itu bernama Maria Elisabetta Hesselblad. Atas jasanya, pada 1955, ia menerima Righteous Among the Nations, sebuah penghargaan bagi orang non Yahudi yang berjasa dalam menyelamatkan sisa Israel di Eropa.

Menjadi Katolik
Hesselblad lahir pada 4 Juni 1870 di Faglavik, sebuah desa kecil di Alvsborg, Swedia. Ia anak kelima dari tiga belas bersaudara, buah hati pasangan Augusto Roberto Hesselblad dan Cajsa Pettesdotter Dag. Lahir dari keluarga Lutheran taat, Hes selblad dibaptis sebulan setelah kelahirannya.

Kala kecil, Hesselblad kerap mengikuti kebaktian di gereja. Dalam hatinya muncul pertanyaan, mengapa begitu banyak Gereja Kristen, sementara Kristus sendiri berdoa bagi satu kawanan. Di kemudian hari, Hesselblad menulis, “Tuhan membimbingku ke dalam satu kawanan itu.”

Hesselblad kecil tumbuh dalam kondisi ekonomi keluarga miskin. Hal ini membuat keluarganya sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Waktu berusia 16 tahun, karena alasan membantu kedua orang tuanya, ia keluar dari rumah. Ia pindah ke Karlosborg, lalu hijrah ke AS dalam usia yang masih sangat muda.

Hesselblad mengikuti sekolah Keperawatan di Rumah Sakit Roosevelt New York, AS. Ia mendedikasikan dirinya untuk merawat mereka yang sakit. Pada masa inilah ia begitu sering berjumpa dengan banyak pasien Katolik. Hal ini membuat dirinya makin haus untuk tahu tentang kekatolikan. Suatu hari, ia ditugaskan ke sebuah biara suster untuk merawat seorang suster di sana. Percakapan dengan sang suster melahirkan daya tarik untuk mempelajari iman Katolik.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*