Artikel Terbaru

Makanan Imlek Bukan Takhayul

HIDUPKATOLIK.comSaya baru saja dibaptis Desember 2016. Apakah saya diperbolehkan ikut serta dalam makan bersama keluarga pada malam sebelum Tahun Baru Imlek karena makanan yang disiapkan dipercaya membawa kesejahteraan, panjang umur, dll? Bukankah itu takhayul? Makanan mana yang boleh dimakan?

Vincentia Ratna W, Surabaya

Pertama, tradisi makan bersama dalam keluarga pada malam sebelum Tahun Baru Imlek adalah sebuah tradisi yang sangat baik dan perlu dipertahankan. Pada malam itu anggota keluarga yang jarang bertemu, menyempatkan diri datang dan ikut serta makan malam bersama keluarga untuk menyambut Tahun Baru Imlek dan mensyukuri karunia Tuhan. Kedekatan dan keakraban sebagai satu keluarga besar diungkapkan dengan mengambil makanan dari meja yang sama dan memakan makanan yang sama.

Memang biasanya disediakan aneka makanan yang dianggap khas Imlek, baik masakan, kue, maupun buah. Jumlah dan jenis makanan bisa berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain. Tapi pada umumnya makna yang diberikan mirip atau sama. Pemaknaan itu dilakukan melalui kesamaan bunyi (homofon) antara dua kata. Hal ini akan menjadi lebih jelas dalam contoh-contoh yang akan dijelaskan kemudian.

Kedua, memakan makanan Imlek akan menjadi takhayul jika kita mempercayai bahwa masakan atau kue itu sendiri mempunyai daya kekuatan untuk mewujudkan makna yang dimaksudkan. Jika demikian, maka sebaiknya kita tidak ikut serta makan bersama. Tapi memakan makanan Imlek bisa dimaknai sebagai ungkapan doa permohonan kepada Allah Sang Pencipta. Kita percaya bahwa Bapa di surga tahu apa yang kita butuhkan dan akan memberikannya (Mat 6:31-34). Tetapi sesuai ajaran Yesus, kita tetap harus memintanya. Karunia-karunia yang kita minta akan diberikan Allah, dan bukan oleh makanan itu atau tindakan memakan itu sendiri.

Ketiga, dengan pengertian iman tersebut, maka semua makanan khas Imlek boleh disantap tanpa masalah. Berikut adalah beberapa contoh makanan Imlek dan maknanya: bakmie adalah sajian wajib yang tak pernah ketinggalan. Bentuk mie yang panjang mengungkapkan harapan dan doa kepada Tuhan akan umur panjang. Hal ini mirip dengan saat merayakan ulang tahun.

Rebung melambangkan semangat baru dalam hidup yang tidak kenal lelah dan terus tumbuh ke atas semakin lama makin tinggi dan besar. Memakan rebung dimaknai sebagai ungkapan harapan dan permohonan agar prestasi para anggota keluarga semakin lama semakin tinggi dan besar.

Kue keranjang, yang dalam bahasa Mandarin diucapkan nian gao mempunyai bunyi yang sama dengan kata Mandarin yang berarti “tahun yang lebih sejahtera”. Teksturnya yang lengket dimaknai sebagai ungkapan doa agar seluruh keluarga akan diikat dalam persaudaraan yang erat dan menyatu. Sedangkan teksturnya yang kenyal dimaknai sebagai permohonan akan keuletan, kegigihan anggota keluarga untuk berjuang meraih cita-cita. Bentuk bulat dimaknai sebagai keutuhan keluarga adalah dukungan yang sempurna untuk bisnis, hidup pribadi, maupun sosial.

Ikan yang disajikan haruslah ikan yang utuh. Kata “ikan” dalam bahasa Mandarin berbunyi sama dengan kata “kelimpahan”. Memakan ikan dimaknai sebagai harapan dan doa agar sepanjang tahun yang baru seluruh keluarga dilimpahi kesejahteraan.

Sedangkan jeruk Mandarin, dalam bahasa Mandarin memiliki bunyi yang sama dengan kata “emas”. Memakan jeruk Mandarin dimaknai sebagai doa permohonan akan kemakmuran, yang bukan saja secara jasmani tetapi juga rohani. Kemakmuran ini juga dimaknai dari bentuk jeruk itu. Jika jeruk yang satu itu dibuka, maka akan ada banyak “sisir”. Jika setiap sisir dibuka, kita mendapatkan banyak butir-butir jeruk. Itulah lambang kemakmuran yang dimohonkan.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 6 Tanggal 5 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*