Artikel Terbaru

Purnakarya

Purnakarya
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Purnakarya atau memasuki masa pensiun sama dengan memasuki dunia baru tanpa kepastian yang jelas. Orang yang memasuki masa ini harus rela meninggalkan segala kepastian dan kenyamanan. Ia harus meninggalkan pekerjaan, penghasilan, serta karya yang bertahun-tahun ia nikmati dan geluti. Begitu masuk masa purnakarya, ia mesti menghadapi masa penuh ketidakpastian. Ya, masa depan memang mengandung ketidakpastian, bahkan bagaikan sebuah misteri yang tak bisa diduga akhir ceritanya.

Lantaran penuh ketakpastian, masa purnakarya atau pensiun terasa menakutkan. Bahkan, banyak orang kadang tak merasa siap menghadapi masa-masa itu. Ada yang frustasi, stres, mengalami post power syndrome, dan yang lain.

Ketika surat pengunduran diri sebagai Uskup Agung Jakarta dikabulkan Paus, Kardinal Julius Darmaatmadja SJ berkata, “Saya sudah purnakarya. Bukan saatnya lagi saya meminta diberi pekerjaan ini atau itu. Kalau memang orang lain asih menganggap saya mampu, nanti kan orang itu yang datang. Jadi, tidak perlu memaksa orang lain memberikan pekerjaan kepada saya.” Kardinal menyikapi masa purnakaryanya dengan ringan.

Inilah sikap iman; berani masuk ke dalam masa depan yang penuh ketidakpastian serta penuh risiko. Tapi, meskipun tak pasti dan penuh risiko, keputusan harus tetap diambil. Karena waktu tak bisa ditawar, sementara usia terus bergulir, dan masa pensiun terus membayangi mata.

Terkadang iman juga penuh dengan ketidakpastian dan penuh risiko. Ia bisa gagal di tengah jalan, atau paling tidak bisa melenceng jauh dari yang direncanakan. Karena manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan jalan. maka bersandar kepada tuntunan Tuhan adalah sikap iman dalam menghadapi setiap ketakpastian, termasuk saat memasuki masa purnakarya.

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 49 Tanggal 6 Desember 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*