Artikel Terbaru

Mereka Menepi dan Terus Berbagi

Terus Berbagi: Kardinal Darmaatmadja bersama para Jesuit sepuh menikmati kebersamaan di Wisma Emmaus Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah.
[NN/Dok.HIDUP]
Mereka Menepi dan Terus Berbagi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Di masa purnakarya pun, para Uskup Emeritus tak mengenal istilah berhenti melayani. Itulah saat terbaik mendekatkan diri kepada Tuhan, rendah hati, dan berkarya bagi Gereja dan sesama.

Menjalani masa purnakarya merupakan perutusan dan panggilan dari Tuhan. Usia senja bukanlah sesuatu untuk diratapi atau disesali, melainkan disyukuri dengan kemerdekaan hati bahwa Tuhan telah menemani perjalanan hidup seseorang sampai saat itu. Demikian refleksi Uskup Agung Emeritus Jakarta, Kardinal Julius Darmaatmadja SJ saat merayakan ulang tahun ke-80 tahun lalu.

Menurut Bapa Kardinal, apa yang masih dapat ia lakukan demi kebaikan Gereja dan masyarakat, tetap dihidupi dalam kesederhanaan dan keterbatasan fisik. “Kuncinya adalahsumeleh, berserah total kepada kehendak Allah sembari terus mengusahakan dan mencari kehendak-Nya dalam menjalani sisa hidup ini.”

Hal senada diungkapkan oleh Uskup Emeritus Bogor, Mgr Michael Cosmas Angkur OFM. Baginya, purnakarya bukan lagi tentang penyesalan masa lalu, tapi syukur dan refleksi atas semua tugas dan tanggung jawab yang selama ini diemban. Penting untuk menerima masa purnakarya sebagai karunia Tuhan. “Pensiun tanpa penyiapan diri yang tepat membuat manusia bisa memasuki masa tua dengan tergagap-gagap,” ujar Mgr Angkur.

Bahkan, Uskup Agung Emeritus Pontianak, Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap menegaskan, “Pensiun bukan berarti akhir, tetapi awal menyiapkan diri untuk tugas yang berat yaitu bersatu dengan Tuhan di Surga”.

Kesempatan Berbagi
Mgr Angkur merefleksikan masa purna karyanya sebagai hal biasa. Ada waktu untuk datang; ada waktu untuk pergi. Itulah kenyataan. Dalam segala hal, hidup ada waktunya. Ada waktu untuk menanam; ada waktu untuk menuai. Semua telah diatur Tuhan.

Purnakarya adalah saat terindah menikmati kebersamaan dengan masyarakat kecil. Tak muluk-muluk, melihat senyum kegembiraan umat sederhana, membuat hidupnya lebih bermakna. “Menjadi uskup bukanlah sebuah jabatan tinggi bagai di atas menara gading, tetapi harus turun bekerja, senasib dengan umat,” kata Mgr Angkur.

Meski hidup jauh dari kota, Mgr Angkur tak kesepian. Ia mengisi hari-hari dengan beragam aktivitas, tak mau duduk berpangku kaki dan hanya menerima. Kendati raga termakan usia, semangat terus menggelora. Masa senja, ia tetap berkarya demi sesama.

Bagi Mgr Angkur, masa tua adalah masa memetik buah yang telah ditanam dalam peziarahan hidup, menikmati rahmat Tuhan selama hidup. Bahagia di masa tua adalah hasil perjuangan di masa muda yang diisi dengan kebaikan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*