Artikel Terbaru

Theresia Meak-Mateus Josef Mau: Derita Menguji Emas Pernikahan

Pasangan Emas: Mateus Josef Mau dan Theresia Meak.
[RD Hermin Bere]
Theresia Meak-Mateus Josef Mau: Derita Menguji Emas Pernikahan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Kesetiaan pasangan suami-istri ini ibarat emas yang diuji kemurniannya dalam tanur api. Iman dan cinta keduanya kian diteguhkan hingga merengkuh mahkota emas pernikahan.

Pendar kebahagiaan menyelimuti Theresia Meak dan Mateus Josef Mau. Dua sejoli itu meresmikan ikatan cinta di depan altar Gereja Katedral Maria Imakulata, Atambua, Nusa Tenggara Timur, 50 tahun silam. Baru seumur jagung usia pernikahan, kesulitan pangan melumat Kabupaten Belu, kampung halaman mereka.

Ladang-ladang nyaris tak membuahkan hasil. Beras amat langka didapat di toko maupun di pasar. Seandainya tersedia, para penjual menikam harga mati-matian. Meski seorang aparatur sipil, gaji Mateus tak sanggup membawa pulang beras untuk sang istri.

Beruntung masih ada sagu dan singkong untuk menambal perut mereka. Tetapi untuk mendapatkan makanan, Mateus harus berjalan kaki ke Atapupu, sekitar 20 kilometer dari Kota Atambua. Lagi-lagi, usaha itu bukanlah jaminan. Terkadang sudah berjalan jauh, Mateus kerap kembali dengan tangan hampa.

Tahan Uji
Krisis pangan pada 1963 berlanjut hingga dua tahun kemudian. Kali ini situasi tambah rawan seiring meletusnya pembantaian massal antek-antek atau yang tertuduh berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Mateus mengenang, masa itu masyarakat lebih memilih tinggal di dalam rumah. Mereka takut dituduh dan ditangkap sebagai agen-agen PKI.

Alih-alih berdiam diri di dalam rumah, suami Theresia justru gigih mencari makanan. Kekhawatiran yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat di daerah sama sekali tak menciutkan nyalinya. Pada sore hari, usai pulang kerja, dia menelusuri berbagai tempat. “Saya yakin St Yosef mendorong dan melindungi saya di tengah situasi sulit ini,” kata Mateus dengan yakin.

Pada suatu sore, Mateus kembali ke rumah tanpa membawa hasil. Begitu tiba di depan rumah, dia melihat istrinya bersimpuh di hadapan patung Bunda Maria. Wajah Theresia tertunduk, mulutnya terkatup rapat. Mateus lalu bergabung dengan sang istri. Usai berdoa, kepada istrinya dia meminta maaf karena tak mendapatkan makanan.

Theresia membesarkan hati suaminya. Dia berusaha meyakinkan Mateus, doa dan usaha mereka tak akan sia-sia. Setelah bercakap-cakap dengan Theresia, Mateus ke pasar. Dia juga membawa kemeja putih bekas miliknya. Berjamjam Mateus berharap ada yang tertarik menukar kemejanya dengan makanan. Namun, lagi-lagi hasilnya nihil.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*