Artikel Terbaru

Andreas Surya Wiyono: Seniman Digital dari Timur

Andreas Surya Wiyono.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Andreas Surya Wiyono: Seniman Digital dari Timur
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Di saat ia meraih sukses sebagai seniman digital di Lucas Film Singapura, ia justru keluar untuk mendirikan studio dan lembaga kursus animasi di tanah air.

Berderet poster film memanjakan mata para pengunjung yang memasuki Enspire Studio dan Enspire School of Digital Art (ESDA). “Ini hasil karya teman-teman di sini,” kata sang pendiri, Andreas Surya Wiyono sambil menunjuk poster-poster itu.

Pria yang pernah putus kuliah ini merupakan satu-satunya orang Indonesia yang pernah bekerja di Lucas Film Singapura. Ia bekerja di bagian efek visual, sebagai digital artist. Namun saat namanya meroket, Andre justru undur diri dari perusahaan pembuat film asal Amerika Serikat ini. “Lebih baik jualan kacang goreng, tapi usaha sendiri dan jadi bos, dari pada terus menjadi karyawan,” ucap Andre mengutip pesan sang ayah.

Inspirasi Timur
Andre banyak menimba pengalaman selama empat setengah tahun bekerja di Negeri Singa. Semua karyawan di tempatnya bekerja tak pelit membagi ilmu dan pengalaman. Mereka pekerja keras dan memiliki disiplin tinggi. “Mereka work smart, bukan work hard,” ungkapnya.

Pada 2012, anak ketiga dari tiga bersaudara ini pulang ke Indonesia. Setahun kemudian, lulusan Vancouver Institute of Media Arts (VanArts) Kanada ini, mendirikan Enspire Studio dan Enspire School of Digital Art. Bila William Shakespeare pernah berujar, “Apalah arti sebuah nama”, maka bagi dia, selain memiliki makna, nama juga mempunyai misi dan semangat. Andre menjelaskan “enspire”, berasal dari kata “inspire”. Huruf pertama “e” dalam kata “enspire” adalah kependekan kata “east” (timur). Melalui nama ini, Andre berharap, perusahaan ini kelak menjadi inspirasi dari Timur, dari Indonesia bagi dunia internasional.

Mewujudkan idealisme, tak semudah membalikkan telapak tangan. Pria kelahiran Jakarta, 31 tahun silam ini mengakui, jumlah digital artist (seniman digital) dan animator di Indonesia amat sedikit. Kalaupun ada, mereka bekerja di luar negeri. Upah nan menggiurkan menjadi pemicu utama. Ketika bekerja di Singapura, gaji seorang seniman digital 3.500 SGD (Rp 33,6 juta) per bulan.

Ketika Andre membuka tirai usaha sendiri, hanya ada tiga karyawan yang membantu. Bagai bola salju yang mengelinding, jumlah awak Enspire kian bertambah. Saat ini, Andre berkarya bersama 45 karyawan. “Bagi seniman, gaji penting, tetapi prioritas adalah kepuasan batin serta apresiasi atas karya mereka. Tim saya juga lulusan luar negeri,” terang Andre.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*