Artikel Terbaru

St B A R C Ar-Rayès: Mistikus Perempuan dari Katolik Maronit

Jejak Iman: Makam St Rafqa Ar-Rayès di Biara St Joseph, Grabta, Lebanon.
[panoramio.com]
St B A R C Ar-Rayès: Mistikus Perempuan dari Katolik Maronit
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ia merindukan penderitaan Yesus. Selama 20 tahun ia berteman rasa sakit. Hidup rohaninya menjadi berkat bagi Gereja Katolik Maronit.

Lebanon bergejolak. Tahun 1860, Gereja Katolik Maronit mengalami penganiayaan dari kaum Druze(darazī), sebuah komunitas etno-religius di Timur Tengah. Ribuan umat Maronit dibantai. Ratusan desa dan gereja, serta puluhan sekolah dan biara di seantero Lebanon dibumihanguskan.

Dalam situasi genting itu, seorang biarawati muda Maronit mendapat tugas perdana mengajar di sebuah sekolah di daerah Deir al-Qamar, Lebanon, salah satu pusat pembantaian umat Maronit. Di situ, ia menyaksikan pertumpahan darah dalam perang sipil. Selain mengajar, ia mengunjungi umat dan menghibur mereka yang teraniaya.

Suatu hari terjadi huru-hara hebat. Kaum Druze berperang dengan umat Maronit di Deir al-Qamar. Tanpa sengaja, suster muda itu melihat seorang bocah terjebak di tengah kerusuhan. Ia menelusup berusaha menyelamatkan anak itu. Ia menyembunyikannya di balik jubahnya, si bocah pun selamat.

Batu Karang
Itulah secuil kisah Sr Boutrossieh Anissa Rafqa Choboq Ar-Rayès. Ia lahir dengan nama Boutrossieh Choboq Ar-Rayes, putri semata wayang Mourad Saber al-Chobouq al-Rais dan Rafqa Gemayel. Masa kecilnya amat membahagiakan. Ia dibesarkan dalam keluarga Katolik Maronit yang saleh.

Kelahiran Himlayah, Metn, Lebanon Utara, 29 Juni 1832 ini dibaptis dengan nama Boutrossieh, bentuk feminin dari Boutros atau Petrus. Nama ini diberikan dengan harapan, kelak ia mampu berdiri kokoh seperti batu karang.

Sejak kecil, orangtuanya memperkenalkan Boutrossieh dengan doa-doa dasar. Tak heran jika kesalehan hidup dan keutamaan Kristiani terpatri dalam batinnya. Namun sayang, kebahagiaan keluarga ini terkoyak. Sang bunda meninggal kala usia Boutrossieh masih tujuh tahun. Krisis ekonomi di Lebanon memaksa ayahnya merantau ke Damaskus, Suriah, ketika Boutrossieh berusia 11 tahun.

Ditinggal sang ayah merantau, Boutrossieh dititipkan sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga kaya dan terpandang, Assaad Badawi. Ia diperlakukan sangat baik oleh keluarga Assaad. Bahkan istri Assaad, Helene amat menyayangi Boutrossieh dan menganggapnya seperti anak sendiri.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*