Artikel Terbaru

Beato Francisco de Paula Victor: Budak Rendah Hati Jadi Pastor

Museum Iman: Rumah masa kecil Beato Francisco de Paula Victor di Saturnino de Oliveira kini menjadi Museum “Pastor Victor”.
[oim.carcial.c.com]
Beato Francisco de Paula Victor: Budak Rendah Hati Jadi Pastor
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Meski dihina, dicemooh dan ditolak, Pastor Victor yang berkulit hitam dan mantan anak budak ini tak surut melayani hingga akhirnya umatpun mencintainya.

Berkulit hitam, berambut keriting. Pastor Victor memasuki Três Pontas, Minas Gerais, desa kecil di Brazil Selatan. Beribu mata tertuju padanya. Ia membalas tatapan itu dengan senyum bersahabat. “Saya Pater Francisco de Paula Victor, pastor paroki baru kalian,” ujarnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan.

Perkenalan itu dibalas dengan cemooh. Mereka menolak pastor parokinya karena berkulit hitam dan mantan budak. Dalam sekejap kabar “pastor paroki baru mantan budak” sudah menyebar. Mereka memboikot dan menolak kehadiran Pastor Victor. Mereka tidak datang Misa dan tak mau menerima Sakramen Ekaristi dari tangan mantan budak negro. Mereka menuntut, pastor di Três Pontas harus berkulit putih.

Meski desa kecil, Três Pontas maju di sektor ekonomi. Desa ini dikenal sebagai penghasil kopi ternikmat di Brazil. Wilayah ini juga khas karena dialiri Sungai Araras dan Espera yang melewati Minas Gerais menuju Bendungan Furnas.

Pastor Victor berusaha dengan berbagai cara untuk mengambil hati umatnya. Ia berjuang untuk terus melayani dengan tulus. Ia memulai karyanya dengan membantu fakir miskin dan terlantar.

Lambat laun, karyanya menarik simpati orang-orang kaya yang dulu membencinya. Mereka mulai menghadiri Misa dan mendengarkan khotbahnya. Banyak orang rela antre di depan ruang pengakuan. Paroki menjadi hidup lagi. Gereja baru didirikan, yang diberi nama Gereja Nossa Senhora d’Ajuda.

Mimpi Seorang Budak
Masa kecil Francisco de Paula Victor dihabiskan di sebuah kastil megah di Straight Street Campaign (kini: Saturnino de Oliviera), Vila da Campanha da Princesa, Minas Gerais. Ia lahir di kastil itu pada 12 April 1827 dari seorang budak perempuan, Lourença Justiniana de Jesus. Tak ada catatan apapun mengenai siapa ayahnya.

Pada usia delapan hari, ia dibaptis oleh Pater Antonio Manoel Teixeira. Meski anak seorang budak ia mendapat ibu baptis seorang kulit putih yang kaya raya. Marianna Barbara Ferreira yang adalah tuan dari ibu kandungnya, menjadi bunda permandiannya.

Marianna memperlakukan Victor dan ibunya tidak seperti majikan memperlakukan budaknya. Ibu baptisnya itu mengajarinya membaca, menulis, menjahit dan Bahasa Perancis. Bahkan Victor piawai bermain piano berkat didikan Marianna.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*