Artikel Terbaru

Klinik Melania Bruderan: Melayani Orang Miskin yang Sakit

Kebersamaan: Para pengurus klinik setelah doa bersama dan briefing, Sabtu, 14/11.
[HIDUP/Edward Wirawan]

HIDUPKATOLIK.com – Klinik milik bruder kongregasi Budi Mulia ini menjadi salah satu pelopor klinik TBC di Kota Bogor. Klinik ini tak lelah melayani terutama yang miskin.

Pada masa awal berdirinya, sering terdengar suara sumbang tentang klinik yang berdiri di Jl Kapten Muslihat No. 20 Bogor, Jawa Barat itu. Komentar-komentar seperti “Itu kan klinik untuk orang Kristen,” sering kali terdengar berasal dari pihak-pihak tertentu. Sekarang suara-suara tersebut hampir tidak terdengar lagi. Suara itu patah oleh fakta bahwa mayoritas pasien Klinik Melania Bruderan (KMB) merupakan masyarakat beragama Islam.

Klinik ini memang selalu ramai pengunjung. Hal itu kontras dengan keberadaan rumah sakit yang berada di samping KMB. “Rata-rata, kami bisa menerima seratusan pasien setiap hari,” ujar Kepala KMB, Br Albert Telaumbanua BM.

KMB sebelumnya disebut Balai Pengobatan Melania Bruderan. Karena mengikuti peraturan Kementerian Kesehatan maka nama Balai Pengobatan diubah menjadi Klinik sampai sekarang.

Endemik TBC
Bumi Pasundan merupakan wilayah dengan jumlah pengidap tuberkulosis (TBC) tertinggi di Indonesia. Itu bukanlah cerita baru. Sejak tahun 1970-an, wilayah Jawa Barat memang memiliki frekuensi pengidap TBC cukup tinggi. Selain TBC yang mewabah, situasi sosial ekonomi masyarakat juga memprihatinkan. Fasilitas kesehatan ketika itu juga belum memadai seperti saat ini.

Berlatar pada kondisi itu, pada 1 Juni 1970 para bruder kongregasi Budi Mulia (BM) mendirikan balai pengobatan untuk penderita TBC. Keputusan para bruder Budi Mulia seperti menyambut visi gereja universal yang saat itu banyak memiliki kegiatan misi. Klinik pun berdiri dengan sokongan bantuan dari beberapa lembaga dan karya-karya Misi dari Eropa.

Tahun 1980-an, arus jumlah misionaris ke Indonesia mulai menurun yang berdampak pada kurangnya pasokan bantuan obat-obatan. Kondisi ini tidak banyak berpengaruh terhadap perkembangan KMB, saat itu klinik ini sudah mandiri dan bisa bertahan hingga saat ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*