Artikel Terbaru

Bina Calon Imam

Bina Calon Imam
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Gereja Katolik, melalui Konsili Vatikan II, menyadari betapa penting peran seorang imam. Maka, para Bapa Konsili, secara khusus memberikan perhatian pada proses pembinaan para calon imam. Bentuk perhatian ini tertuang dalam dekrit tentang pembinaan imam, Optatam Totius. Dekrit yang ditandatangani Paus Paulus VI dan para Bapa Konsili ini lahir pada 28 Oktober 1965.

Dalam dekrit ini, para Bapa Konsili menyadari bahwa Gereja perlu mengikuti gerak perkembangan zaman. Situasi dunia yang kian terbuka, menuntut pembinaan para calon imam yang sesuai dengan konteks ragam bangsa, budaya, serta yang lain. Pembinaan para calon imam juga perlu melihat situasi medan karya yang hendak dihadapi.

Gereja juga menyadari bahwa pengembangan panggilan imam tak hanya menjadi tanggung jawab para klerus. Ia juga menjadi tanggung jawab seluruh umat beriman. Dalam hal ini, peran keluarga sungguh bernilai. Di keluargalah, para calon imam pertama kali mendalami hidup Kristiani yang dilandasi semangat iman dan kasih. Bisa jadi, keluarga menjadi tempat pertama kali persemaian benih-benih panggilan imam. Keluarga pun bisa menjadi sebuah “seminari”, tempat pembibitan calon-calon imam.

Seminari menjadi tempat persemaian benih panggilan imam kedua, setelah keluarga. Di sinilah, para calon imam digembleng dalam tata cara hidup yang khas. Di seminari, mulai dari seminari kecil, seminari menengah, hingga seminari tinggi, para calon imam semakin didekatkan dengan panggilan imamat. Seminari bagai “kawah candradimuka”, di mana setiap pribadi ditempa agar menjadi para calon imam yang memiliki karakter sebagai seorang gembala. Para Bapa Konsili mengingatkan bahwa seluruh pembinaan dalam seminari mesti berhubungan erat dengan dengan tujuan pastoral. Para seminaris dibina dengan tujuan agar mereka seturut dengan teladan Yesus Kristus, siap menjadi gembala umat.

Paus Emeritus Benediktus XVI pernah mengatakan bahwa masa di seminari adalah masa untuk studi. Imam Kristiani pada dasarnya memiliki dimensi rasional dan intelektual. Ketika dimensi itu kurang atau bahkan hilang, maka bukanlah iman Kristiani. Maka, pembinaan intelektual bagi para calon imam adalah hal yang sangat penting.

Tempaan pendidikan di seminari juga untuk menjadikan para calon imam menjadi manusia yang dewasa. Hal ini penting bagi para calon imam, yang dipanggil untuk mendampingi orang lain dalam perjalanan hidup menuju Allah. Maka, ia mesti bisa berjalan dalam keseimbangan antara hati dan pikiran, akal dan perasaan, tubuh dan jiwa, untuk menjadi manusia yang utuh. Paulus mengungkapkan hal ini kepada jemaat di Filipi, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”(Flp 4:8).

Dalam pembinaan calon imam ini, Gereja dalam arti hierarki, tak sendiri. Ia mesti melibatkan umat awam dalam gerakan dan proses pembinaan para calon imam. Seperti pesan para Bapa Konsili bahwa pembinaan para calon adalah tanggung jawab semua umat beriman.

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 11 Tanggal 12 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*