Artikel Terbaru

Kerahiman Allah, Intisari Hidup Gereja

Kerahiman Allah, Intisari Hidup Gereja
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Kurang seminggu lagi, Gereja Katolik akan memulai peringatan Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi. Di tahun itu, hirarki dan umat merenungkan pesan “Allah yang maharahim dan murah hati”.

Dilihat dari sudut mana pun, Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi 2015-2016 memang Luar Biasa. Pertama, karena Yubileum ini tidak menuruti urutan waktu perayaan yang secara tradisional berjarak 25 tahun (2000-2025-2050-2075). Tetapi, ada alasan lain pula. Yubileum yang bertema kerahiman Allah sungguh tidak diduga, bahkan mengejutkan banyak orang. Yang merasa paling dikejutkan olehnya ialah mereka yang justru mengenal teologi bahkan mahir mengartikan Kitab Suci. Mengapa? Karena tema kerahiman yang dengan jelas dan rinci dibahas oleh Paus Yohanes Paulus II dalam ensikliknya Dives in Misericordia, umumnya diterima sebagai ulasan teologis yang menarik, tetapi tidak lama kemudian ditaruh di laci meja. Hari Minggu Paskah II, yang 15 tahun lalu ditetapkan oleh Paus yang sama sebagai Minggu Kerahiman pun, tidak berhasil mengantar para petugas pastoral kepada keyakinan bahwa kerahiman ilahi dan belas kasihan manusia merupakan intisari hidup Gereja.

Syukurlah, Paus Fransiskus justru bermata tajam bagaikan elang yang terbang tinggi. Belas kasihan – katanya tegas – adalah jantung Injil, dan seharusnya menjadi pola hidup segenap Gereja. Kemurahan hati harus dijadikan kriterium kredibilitas Gereja. “Gereja dipanggil pertama-tama untuk menjadi saksi yang pantas dipercaya tentang kerahiman, dengan cara mengakui dan menghayatinya sebagai intisari pewahyuan Yesus” (Bulla Paus Fransiskus #24).

Paus Yohanes Paulus II, 35 tahun yang lalu, sudah berbicara tentang apa yang bisa terjadi dalam abad XXI, jika umat manusia tidak belajar menjadi urah hati. Di masa ini, kata-kata Paus itu, tampak bagaikan nubuat. Sebab, cobalah merenung sejenak: Kejahatan apa yang belum berani dilakukan terha dap manusia oleh manusia sendiri, bahkan oleh orang beragama? Siapa yang sungguh menghormati dan membela kehormatan manusia di masa sekarang? Mengapa belas kasihan ditertawakan secara sinis dan ingin disamakan dengan filantropi belaka yang tidak layak dipraktikkan di zaman modern ini lagi? Lalu, bagai – mana dengan Gereja sendiri? Benarkah ia Oasis Belas Kasihan (Bulla#13) dan pengampunan? Banyak orang belum sadar bahwa kerahiman Allah bukan sebuah devosi belaka. Paus Fransiskus sangat menyadarinya, sehingga ia berseru dengan lantang, dan seruannya boleh saja dirumuskan begini, “Hai umat Kristen, berlakulah seperti Kristus terhadap saudaramu yang hampir sekarat, entah siapa orang itu! Binalah dirimu menjadi serupa dengan hati Bapa! Sebab dunia ini tidak akan mengalami kedamaian selama ia mengabaikan belas kasihan.”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*