Artikel Terbaru

Pahlawan dan Kenyamanan

Pahlawan dan Kenyamanan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Hari Pahlawan yang kita peringati setiap 10 November lewat tanpa terlalu membekas. Dari buku-buku sejarah sejak bangku sekolah, kita menghapalkan nama-nama besar para pahlawan. Kepahlawanan pada masa revolusi umumnya terkait dengan heroisme perang. Pada masa sesudah reformasi, kita melihat berbagai aktivisme memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan. Mahasiswa, ibu rumah tangga, netizensyang bersimpati kepada korban kezaliman, berupaya membuat perubahan dengan berbagai cara. Risiko pasti ada. Kita mengenang pembela sesama yang kehilangan nyawa di tangan penguasa seperti Marsinah, Munir, dan Salim Kancil, petani yang menolak penambangan pasir. Bukan berarti semua orang harus menjadi martir. Program televisi seperti Kick Andy kerap menampilkan orang-orang kecil yang menjadi pahlawan melalui berbagai karya kasih dalam kehidupan sehari-hari. ereka adalah orang-orang yang siap keluar dari zona nyaman untuk mengupayakan kebaikan dengan cara mereka sendiri, dengan memberikan yang terbaik dari diri bagi orang lain.

Bagaimana kita menerapkan konsep kepahlawanan kepada diri sendiri? Di tengah gaya hidup urban yang cenderung konsumtif dan berorientasi kenikmatan, kita mengenal ungkapan “jangan sok jadi pahlawan!”. Berbuat lebih dari yang biasa dianggap berlebihan. Maka, keberanian menyuarakan kebenaran, mengupayakan perubahan menjadi surut. Masyarakat yang terbuai dalam zona nyaman cenderung cepat berpuas diri dan tak suka terusik tantangan. Orientasi hidup berpusat kepada keamanan material dan status sosial. Universitas menjadi tempat pertama-tama mencari gelar, bukan ilmu. Cita-cita dianggap tercapai, jika seseorang mendapatkan posisi aman sebagai pegawai negeri atau swasta, dokter atau insinyur, atau bahkan menjadi rohaniwan.

Jebakan kenyamanan menumbuhkan kemalasan dan meningkatkan godaan mencari jalan pintas. Ada mahasiswa yang alih-alih membaca buku yang ditugaskan, mencari ringkasan di internet. Ada pula dosen yang tergoda memalsukan karya orang lain untuk kenaikan pangkat. Pejabat negara pun tergiur mengkorupsikan waktu, tenaga, uang atau sumber daya.

Kenyamanan berpotensi menumpulkan hati nurani. Kita cenderung memilih tidak melihat ketimpangan dan kesengsaraan di sekitar, agar tidak terganggu, kehilangan selera makan, atau menjadi tidak bisa tidur. Kita menghibur diri dan mengatakan bahwa masalah itu di luar urusan dan tanggung jawab. Berita yang deras tentang bencana alam dan bencana akibat ulah manusia, seperti kabut asap, kekeringan, dan kriminalitas, membuat kita cenderung merasa kecil dan tak berdaya.

Tapi pahlawan bukanlah orang yang berkerut dahi dan penuh kesusahan. Ia adalah orang yang penuh gairah dan semangat menjalankan panggilan hidup. Dalam konteks biblikal, pahlawan adalah orang yang membiarkan Roh Kudus bekerja menyalurkan kasih kepada sesama. Kita ingat, kabar suka cita yang mengubah hati dua murid yang galau di tengah perjalanan ke Emaus menjadi berkobar-kobar atau lidah-lidah api yang menghalau ketakutan para murid menjadi ketangguhan iman.

Kita tidak dipanggil menderita. Kita dipanggil membawa suka cita dalam hal sekecil apapun yang kita kerjakan. Maka, zona nyaman tidak relevan lagi, karena panggilan suka cita akan melampaui pagar-pagar kekerdilan hati. Kita melihat relawan yang menembus asap di Kalimantan untuk menyelamatkan bayi manusia dan orang utan, pemimpin yang bertekun di luar jam kerja untuk memecahkan permasalahan, atau pelajar yang tak kunjung merasa puas membangun pengetahuan di luar bangku kuliah. Panggilan suka cita itu membukakan telinga dan hati kita kepada penderitaan sesama dan memampukan kita membagi kasih dalam keterbatasan. Jika itu terjadi, perubahan akan terjadi tanpa perlu menunggu kedatangan Ratu Adil atau Superheroes. Kita juga tidak perlu menunggu satu tahun sekali untuk merayakan Hari Pahlawan. Di sini dan sekarang, selamat datang Pahlawan!

Melani Budianta

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 48 Tanggal 29 November 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*