Artikel Terbaru

Beata M C Anuarite Nengapeta: Beata Pertama dari Kongo

Tempat Ziarah: Makam Beata Marie Clémentine Anuarite Nengapeta di Katedral Isiro.
[digitalcongo.net]

HIDUPKATOLIK.com – Ia menolak menjadi istri Panglima Perang Simba. Akibatnya, ia dibunuh dengan keji.

Pada 29 November 1964 malam, pasukan Simba memaksa 46 suster dari Keluarga Kudus atau Sisters of the Holy Family (SHF) untuk keluar dari biara mereka di Bafwabaka, Republik Kongo (kini: Republik Demokratik Kongo, RDK). Dengan alasan perang yang kian meluas, pasukan akan mengungsikan para suster ke Wamba, wilayah Tshuapa.

Seorang demi seorang suster melompat ke truk. Ketika memasuki wilayah Tshuapa, truk berputar arah menuju Isiro, wilayah Haut-Uele. Para suster menangkap gelagat yang buruk. Mereka berdoa dan berharap ada bantuan. Truk memasuki “Rumah Biru”, sebuah bangunan milik Kolonel Yuma, Panglima Perang Simba, sekaligus markas pasukan Simba yang dalam Bahasa Swahili berarti Singa.

Sr Marie Clémentine Anuarite Nengapeta, salah seorang dari 46 suster itu menolak masuk ke rumah. Ia menempuh berbagai cara untuk meloloskan diri dari pasukan Simba yang terkenal bengis. Usahanya sia-sia. Sr Clémentine digelandang menghadap Kolonel Ngalo, pemimpin “Rumah Biru”.

Kolonel Ngalo langsung jatuh hati melihat kecantikan Sr Clementine. Ia berniat menjadikannya istri. Sr Clémentine menolaknya karena ia telah berikrar setia hanya pada Kristus. Kolonel Ngalo lalu minta bantuan Pierre Olombe, komandan pasukan untuk memaksa Sr Clémentine menjadi istrinya. Pierre diam-diam tertarik pada kecantikan Sr Celementine. Ia lalu mengajak Sr Clémentine dan Sr Bokuma Jean Baptiste ke luar jalan-jalan. Dua suster ini dengan senang hati menerima ajakan itu sambil berencana melarikan diri. Keduanya tertangkap. Dua suster ini disiksa. Sr Jean dipukuli hingga pingsan, bahkan lengan kanannya patah. Pakaian biara Sr Clémentine dirobek-robek. Ia terus berontak dan berteriak, “Aku lebih baik mati daripada berbuat dosa”.

Pierre kian memerintahkan anak buahnya membunuh dua suster ini. Dengan bayonet, mereka menusuk jantung Sr Clémentine beberapa kali. Tubuhnya terkulai ke tanah. Di sela nafas terakhirnya ia berbisik, “Aku memaafkanmu, karena kamu tidak tahu apa yang kamu perbuat.” Tapi justru sebuah tembakan dilepaskan tepat ke dada kirinya. Sr Clémentine wafat di tangan Pierre Olombe di Isiro, 1 Desember 1964.

Melarikan Diri
Anuarite Nengapeta lahir di Wamba, 29 Desember 1939. Ia berasal dari suku Wabudu, penganut animisme. Orangtuanya, Amisi Batsuru Batobobo dan Isude Julienne masih berkepercayaan animis. Ia mulai mengenal kekatolikan seiring masuknya misi di kampung halamannya. Ia dibaptis bersama ibunya tahun 1945 dengan nama Alphonsine.

Semasa kecil, Anuarite sering dipanggil Nangapeta dalam bahasa Wabudu berarti “Kekayaan yang Menipu”. Anuarite sebenarnya nama kakaknya, Leontin Anuarite. Nama Nangapeta hilang karena kesalahan administrasi ketika ia masuk SD. Sejak itu, nama Nangapeta tak digunakan dan ia pun sering disapa Anuarite yang berarti, “Tertawa dalam Perang”.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*