Artikel Terbaru

M M A Aloysia Galih Kesumadewi: Sakit ini Kehendak-Nya

Terus berserah: Kondisi Reta pada 2010.
[NN/Dok.Pribadi]

HIDUPKATOLIK.com – Dua novel berjudul Cinta Tak Berujung dan Sheira: Why Life is So Complicated?,  membawa Reta sapaan Raden Rara Margareta Maria Alacoque Aloysia Galih Kesumadewi kuliah di Negeri Kangguru pada 2008. Ia mendapat bea siswa penuh dari Queensland School of Film and Television, Australia. Baru beberapa bulan di sana, ia sakit. Bungsu pasangan Clemens Maria Bambang Hartana dan Norberta Maria Wigatiningsih ini menderita kelainan selaput otak atau Multiple Menengeal Calcificasi yang disebabkan oleh virus Rubella.

Dokter menduga hidup Reta bakal berakhir pada April 2009. Namun hingga saat ini, Reta mampu terus berkarya, dan telah menelurkan novel keempat berjudul Cerita Cinta Sehari.

Litani Derita
Cinta Reta dengan dunia tulis-menulis tumbuh saat usianya menginjak 11 tahun. Layaknya orang yang baru jatuh cinta, perempuan kelahiran Palembang, 27 tahun silam ini gemar membuat puisi. Tak dinyana, rasa cinta itu nyaris membawanya ke Orlando, Amerika Serikat, tahun 2000.

Saat itu, Reta yang masih mengenakan seragam “merah-putih”, memenangi lomba esai yang diadakan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Sayang, siswi SD Tamansiswa Taman Muda III, Sungai Gerong, Palembang ini justru terbujur di rumah sakit. Ia pun tak bisa pergi ke Amerika.

Rasa nyeri yang tak terperi menghantam kepala gadis mungil itu. Reta juga kerap mimisan, kejang-kejang, muntah, dan tak sadarkan diri. Litani penderitaan yang ia alami semakin panjang. Hampir seluruh tubuhnya bersolek memar dan luka akibat benturan benda tumpul dan tajam.

Gering juga memaksa siswi SD itu mengerjakan soal Ujian Akhir Nasional (UAN) di Rumah Sakit. Bisa lulus UAN dalam kondisi seperti itu, ia sudah beruntung. Tetapi, Reta justru membuat banyak orang geleng kepala. Ia justru menyabet juara II UAN dengan nilai tertinggi tingkat SD se-Provinsi Sumatera Selatan.

Reta terpaksa tak melanjutkan pendidikan. Ia rehat setahun demi memulihkan kesehatannya. Di sela-sela masa pengobatan, entah di Palembang atau di Jakarta, Reta rajin menulis. Buah ketekunan anak bungsu dari empat bersaudara itu terbayar lunas. Novel perdananya terbit dengan judul Cinta Tak Berujung. Puisi dan cerita pendek Reta juga sempat menghiasi surat kabar di kota kelahirannya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*