Artikel Terbaru

Penerus Para Rasul

Penerus Para Rasul
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Peristiwa iman yang terjadi 17 tahun silam terulang lagi di Bumi Borneo. Pada 6 Februari 2000, Mgr Agustinus Agus menerima Tahbisan Episkopal sebagai Uskup Sintang. Lalu pada 22 Maret 2017, Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap ditahbiskan sebagai Uskup untuk melanjutkan tongkat penggembalaan Gereja Sintang. Dalam tradisi, mereka adalah penerus para Rasul yang menunaikan tugas mulia menjadi guru dalam ajaran, imam dalam ibadah suci, dan pelayan dalam kepemimpinan. Tahbisan Episkopal yang mereka terima merupakan kepenuhan Sakramen Imamat.

Dalam sejarah, Keuskupan Sintang selalu mengalami masa interregnum terkait suksesi takhta Keuskupan. Pertama, tongkat penggembalaan Uskup pertama Mgr Lambertus van Kessel SMM sempat mengalami jeda sebelum Mgr Isak Doera dipilih menjadi penggantinya. Periode 25 Mei 1973 hingga 9 Desember 1976, Sintang digembalakan seorang Administrator Apostolik, Pastor Lambertus van den Boorn SMM. Kedua, kala Mgr Isak mengundurkan diri pada 1 Januari 1996, Sintang tak langsung mendapatkan seorang Uskup pengganti. Takhta Suci pun menugaskan Pastor Agustinus Agus sebagai Administrator Apostolik, sebelum akhirnya ia diangkat menjadi Uskup Sintang pada 29 Oktober 1999. Ketiga, ketika Mgr Agus ditunjuk sebagai Uskup Agung Pontianak pada 3 Juni 2014, Takhta Suci juga tak langsung memberikan pengganti. Vatikan justru tetap meletakkan reksa penggembalaan Sintang kepada Mgr Agus sebagai Administrator Apostolik. Akhirnya, inter-regnum ketiga ini berakhir saat Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap ditunjuk sebagai Uskup Sintang pada 21 Desem-ber 2016.

Tentu banyak cerita, bahkan spekulasi, di balik interregnum seperti itu. Namun, yang paling utama adalah menyadari bahwa setiap Uskup diangkat dengan bebas oleh Paus. Proses “seleksi”-nya pun tidaklah sederhana. Setiap calon Uskup dituntut standar kecakapan dengan level tertentu, seperti unggul dalam iman, bermoral baik, saleh, bijaksana, arif, punya perhatian pada keselamatan jiwa-jiwa dan keutamaan-keutamaan manusiawi lainnya (KHK Kan.378 §1). Standar kecakapan yang dituntut begitu tinggi karena tugas-tugas yang diemban pun tak kalah berat. Uskup harus menjadi pewarta iman yang otentik dan mengemban kewibawaan Kristus hingga membuat iman kawanan yang di gembalakan berbuah. Ia juga memikul tugas menguduskan, menjadi pengurus rahmat imamat tertinggi, dan wajib membantu umat dengan keteladanan hidup. Sebagai gembala, Uskup mesti meneladan Gembala Baik yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, bahkan menyerahkan nyawa demi domba-domba-Nya. “Uskup diutus oleh Bapa-keluarga untuk memimpin keluarga-Nya” (LG art.27).

Berkat tahbisan dan kuasa Roh Kudus, Uskup di Keuskupan masing-masing adalah Guru iman kita, Imam Agung, dan Gembala kita yang sejati dan otentik (CD art.2). Dengan demikian, tidaklah relevan mempertanyakan mengapa yang jadi Uskup adalah pastor ini, dan bukan pastor itu! Sebagai umat beriman, yang penting kita lakukan adalah mendoakan siapapun yang diberi tugas penggembalaan oleh Bapa Suci agar setia dan teguh mengemban kewibawaan Kristus untuk memimpin kawanan domba-Nya. Barangsiapa mendengarkan mereka, mendengarkan Kristus; tetapi barangsiapa menolak mereka, menolak Kristus dan Dia yang mengutus Kristus (lih. Luk 10:16).

Profisiat, Mgr Samuel…, selamat berziarah bersama umat di Sintang!

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 12 Tanggal 19 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*