Artikel Terbaru

Calonku Duda Cerai

HIDUPKATOLIK.comRomo Erwin, suami saya meninggal tujuh tahun lalu. Saya sudah tiga tahun berhubungan dengan seorang duda cerai beragama Kristen. Pasangan saya ini sudah lima tahun berpisah dengan istrinya, namun tak punya akta cerai. Mereka juga baru tahu tak punya akta nikah dari catatan sipil setelah berpisah. Sehingga mereka tak mengurus apapun di pengadilan agama. Jadi selama ini pasangan saya dan mantan istrinya hanya punya surat nikah dari gereja. Setelah berhubungan selama tiga tahun, kami berencana menikah. Namun kami bingung, apakah Gereja Katolik mengizinkan kami menikah secara Katolik mengingat status pasangan saya? Persyaratan apa saja yang harus kami penuhi?

Agnes Anggita Putri, Jakarta

Ibu Agnes yang baik, persoalan Ibu yang telah berpisah dari suami karena kematian tidak mempunyai masalah ikatan nikah, karena sesuai dengan perintah Gereja. Ibu boleh menikah dengan calon baru. Akan tetapi pernikahan yang baru harus mengikuti hukum perkawinan Katolik yang memenuhi kriteria pokok, yaitu kedua pihak mempunyai status liber atau tidak terikat oleh ikatan perkawinan sebelumnya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa yang bermasalah dalam hal ini adalah calon pasangan yang adalah seorang duda cerai hidup.

Sebagai orang beriman Katolik, kita menghargai semua perkawinan yang telah menikah secara sah menurut agamanya masing-masing. Semua perkawinan yang telah diadakan dan dianggap sah secara publik serta secara institusi agamanya, adalah sah pula untuk Gereja Katolik. Karena dinyatakan sah, maka Gereja Katolik menghargai semua perkawinan, yaitu tidak dapat diceraikan, kecuali oleh kematian, jika ingin menikah dengan seorang Katolik lain.

Jadi persoalan pasangan Anda, secara hukum Katolik adalah tidak bisa menikah lagi, karena masih terikat pernikahan yang tak terceraikan dengan istrinya seumur hidup. Hal ini terjadi jika perkawinan mereka adalah perkawinan antara seorang Kristen dengan pasangan dari Kristen, sehingga perkawinan mereka adalah kekal dan tak terceraikan. Hal yang sama akan terjadi juga dalam perkawinan pasangan yang keduanya Islam, Hindu, Buddha, dan seterusnya.

Gereja tak pilih kasih dalam penghargaan kepada perkawinan. Semua orang yang terikat dalam perkawinan seagama, tak dapat menikah dengan seorang Katolik, kecuali pasangannya meninggal. Hal ini menunjukkan besarnya penghargaan Gereja kepada semua perkawinan yang dianggap sakral dan kekal.

Jika Anda ingin mengurus perkawinan, maka tak ada cara lain selain mengurus masalah ini kepada tribunal di Keuskupan. Kami tak dapat mengurus perceraian dengan cara biasa, kecuali Anda berdua telah mendapat status liber (status bebas) yang memungkinkan kalian menikah.

Saya tak mendapat informasi cukup mengenai perceraian calon suami Anda. Cobalah jelaskan kepada Romo Paroki Anda dulu, supaya ia dapat memperoleh keterangan yang jelas dan barangkali dapat membantu Anda dalam proses selanjutnya ke tribunal keuskupan. Ingatlah, jangan langsung ke tribunal, sebab Anda membutuhkan bantuan Romo Paroki untuk menerima kasus Anda dan selanjutnya membuat surat keterangan ke tribunal keuskupan.

Sementara ini, Anda jangan menikah. Jangan nekat menikah dan akhirnya terkena ekskomunikasi. Bicaralah dan uruslah dulu melalui jalur sesuai prosedur. Gereja tak bermaksud mempersulit pernikahan siapapun, tetapi pasti akan membela martabat setiap
perkawinan yang adalah suci dan sakramental. Semoga Anda dapat mengurus semua dengan baik bersama calon Anda.

Seandainya tak mungkin bagi Anda berdua menikah secara sah di Gereja, anggaplah ini sebagai kehendak Tuhan yang tak mau Anda menikah dengan calon Anda. Di atas semua ini, Anda juga perlu tahu mengapa perkawinan pertama calon Anda gagal? Barangkali ada pesan khusus Tuhan kepada Anda berdua. Semoga Anda memahami peristiwa iman ini.

Alexander Erwin Santoso MSF

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 7 Tanggal 12 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*