Artikel Terbaru

Genting, Hoax Mengancam

Yosep Adi Prasetyo.
[HIDUP/Stefanus P. Elu]

HIDUPKATOLIK.com – Hoax sudah mengancam kesatuan masyarakat. Berita yang tidak terverifikasi dan klarifikasi terus beredar. Gereja jangan diam, perlu mengadakan media literasi kepada umat.

Di Indonesia hoax makin menjamur, terutama pada momentum tertentu, semisal Pilpres, Pemilu, dan Pilkada. Tak jarang, orang ramai-ramai men-share informasi via media sosial atau gadget tanpa tahu informasi yang dibagikan itu benar atau bohong. Ketua Dewan Pers Indonesia Yosep Adi Prasetyo mengamini, di Indonesia hoax makin mengancam. Bahkan, hoax sudah merambah ke dalam Gereja Katolik. Gereja harus membumi. Berikut ini petikan wawancara dengan Yosep Adi Prasetyo atau akrab disapa Stanley.

Menurut Anda, apa itu hoax?
Hoax adalah berita bohong yang sengaja dibuat dengan tujuan menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Hoax bisa menimbulkan kekacauan, karena tidak berdasarkan fakta. Cara penyebarannya melalui media sosial atau gadget sehingga membuat orang tergoda untuk menyebarkannya, karena dibuat seolah-olah berita itu benar. Apalagi kondisi masyarakat kita sekarang yang mengalami “tsunami informasi” dan tidak bisa lagi membedakan mana berita benar dan mana berita bohong.

Seberapa genting hoax di Indonesia?
Ini genting, karena menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap media, profesi jurnalistik, dan terkadang menjadi sumber berita untuk media-media mainstream, entah itu media cetak, online, maupun televisi. Kadang pemberitaan media-media besar ini salah karena menggunakan sumber berita yang beredar di media-media sosial, yang minus verifikasi dan klarifikasi.

Seberapa luas jangkuan berita hoax?
Sesuai data kami, ada 43.300 media online di Dewan Pers pada 2015. Yang terferivikasi hanya sekitar 168 media. Sisanya kita nggak tahu. Kemungkinan mereka adalah media abal-abal dan penyebar berita hoax. Pada Januari 2016, A Snapshotof the Country’s Digital Statistic Indicators merilis data pengguna digital di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia sekitar 259,1 juta jiwa. Tapi jumlah pengguna gawai mencapai 326,3 juta. Dan pengguna aktif media sosial sekitar 79 juta. Kita asumsikan bahwa handphone dipegang oleh orang-orang di kota besar dengan masing-masing orang punya dua sampai tiga. Kalau informasi itu masuk ke setiap handphone mereka, maka bayangkan saja, di kepala mereka infomasi seperti apa yang hadir.

Di mana Gereja Katolik bisa berperan untuk melawan hoax?
Kami di Dewan Pers membagi media-media di Indonesia ke dalam empat kuadran. Kuadran I diisi media arus utama, entah itu cetak, online, maupun TV. Kuadran II diisi media komunitas, media keagamaan, media kampus, dan lain-lain. Kuadran III diisi media abal-abal tipe satu, yakni media SARA, media buzzer, media hoax, dan lain-lain. Kuadran IV diisi media abal-abal tipe dua, yakni media kuning dan media partisan. Media-media Katolik (Gereja), termasuk Majalah HIDUP, masuk dalam kuadran II. Di situlah peran Gereja. Gereja mesti mengajak umat Katolik untuk ikut memerangi hoax. Caranya, mengarahkan umat agar tidak mengikuti naluri memencet tombol untuk menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya.

Bagaimana tips membedakan berita benar dan berita bohong?
Yang perlu dilakukan adalah mengecek apakah berita itu benar atau tidak. Caranya, jika beritanya menyebarkan kebencian, fitnah, dan menganjurkan kekerasan, pasti nggak benar. Kemudian kita bisa mengecek sumbernya. Bila tidak ada penanggung jawab, tidak ada alamat, bisa jadi itu hoax.

Himbauan untuk Gereja?
Kalau bisa dibuat sebuah gugus tugas di Lingkungan-lingkungan yang berfungsi untuk menyaring, memverifikasi, dan mengklarifikasi berita-berita yang beredar. Verifikasi ini bisa juga terkoneksi dengan wartawan-wartawan Katolik untuk mengecek kebenaran berita. Saya berharap, Gereja Katolik lebih membumi dan terlibat juga dalam isu-isu kontemporer seperti hoax, karena hal seperti inilah yang dihadapi umat dari hari ke hari. Gereja diharapkan bisa mengantisipasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga bisa seiring dengan ajaran Gereja perihal pemanfaatkan teknologi untuk mengembangkan kemanusiaan.

Stefanus P. Elu

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 7 Tanggal 12 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*