Artikel Terbaru

Lagu Persembahan

HIDUPKATOLIK.comDalam penataran seksi liturgi paroki, diajarkan bahwa lagu persembahan dinyanyikan untuk mengiringi perarakan persembahan umat dari bagian belakang gereja. Tetapi beberapa imam meminta kami mulai menyanyi lagu persembahan segera sesudah Doa Umat. Manakah yang harus kami ikuti? Apa gunanya penataran seksi liturgi?

Andriani Santy, 082230560XXX

Pertama, dalam sebuah perayaan Ekaristi, imam bertindak sebagai tuan rumah yang memimpin perayaan Ekaristi. Sebagai pelayan tertahbis, imam mewakili Yesus yang mengundang, menerima, dan menjamu umat yang menghadiri Ekaristi itu. Maka, sebaiknya kor mengikuti yang diminta pelayan tertahbis itu, juga jika yang diinstruksikan itu tidak selaras dengan peraturan liturgi yang diajarkan Komisi Liturgi Keuskupan atau seksi liturgi paroki. Seorang imam sudah mendapatkan pendidikan liturgi dan teologi, maka diandaikan dia pasti tahu pedoman pokok liturgi.

Kedua, seksi liturgi paroki tak bisa disalahkan sepenuhnya ketika mengajarkan bahwa nyanyian persembahan ditujukan untuk mengiringi persembahan, karena Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) no 74 (cetakan III: 2013) memang mengajarkan bahwa “Perarakan mengantar bahan persembahan ke altar sebaiknya diiringi dengan nyanyian persiapan persembahan (bdk. No. 37,b). Nyanyian itu berlangsung sekurang-kurangnya sampai bahan persembahan tertata di atas altar …. Kalau tidak ada perarakan persembahan, tidak perlu ada nyanyian.” Kalimat terakhir itulah yang menyebabkan bahwa jika perarakan belum mulai, maka kor belum mulai menyanyikan. PUMR No. 74 itu mengkaitkan sangat erat lagu persembahan dengan perarakan.

Ketiga, akhir-akhir ini para ahli liturgi menyadari bahwa telah terjadi kesalahan penerjemahan PUMR dari bahasa Latin (dan Inggris) ke dalam bahasa Indonesia, khususnya pada No. 74 tentang lagu persembahan. Terjemahan yang benar ialah “Perarakan mengantar bahan persembahan ke altar sebaiknya diiringi dengan nyanyian persiapan persembahan (bdk. No 37, b). Nyanyian itu berlangsung sekurang-kurangnya sampai bahan persembahan tertata di atas altar …. Nyanyian selalu dapat mengiringi ritus persiapan persembahan, bahkan juga bila tanpa perarakan dengan bahan-bahan persembahan” (Latin: “Cantus potest semper ritus ad offertorium sociare, etiam sine processione donis”; Inggris: “Singing may always accompany the rite at the offertory, even when there is no procession with the gifts”).

Ini berarti lagu persembahan tidak terkait secara mutlak dengan perarakan bahan persembahan, tapi terkait lebih pada ritus persiapan persembahan. Maka lagu persembahan sudah boleh dinyanyikan langsung sesudah Doa Umat, artinya tak perlu menunggu perarakan bahan persembahan, jika memang ada.

Tentang Penanggalan Liturgi, dikatakan bahwa 2017 adalah tahun A yang Injilnya adalah Matius. Tetapi, mengapa bacaan hariannya diambil dari Injil Markus?

Suliani, 085731883XXX

Sebenarnya pertanyaan ini mencampurkan antara dua hal yang berbeda, yaitu antara bacaan Misa hari Minggu dan bacaan Misa Harian. Untuk bacaan Misa hari Minggu, Gereja membedakan adanya tiga tahun, yaitu Tahun A yang Injilnya diambil dari Injil Matius. Kemudian Tahun B menyajikan Injil dari Markus, sedangkan Tahun C merenungkan Injil Lukas. Sedangkan untuk bacaan Misa Harian, Gereja menyediakan dua bacaan pertama, yaitu satu untuk Tahun I (tahun pertama) dan yang lain untuk Tahun II (tahun kedua). Tahun 2017 (gasal) adalah Tahun Pertama memakai bacaan pertama dari Tahun Pertama.

Sedangkan untuk Injil Misa Harian, baik Tahun Pertama maupun Tahun Kedua, digunakan Injil yang sama. Bacaan Injil diambil secara berurutan dari Injil Markus (pekan 1-9), Injil Matius (pekan 10-21) dan Injil Lukas (pekan 22-34), tanpa mempertimbangkan Tahun A atau B atau C. Injil Yohanes digunakan pada masa Prapaskah.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 7 Tanggal 12 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*