Artikel Terbaru

Saring Sebelum Sharing

Acara Turn Back Hoax saat car free day di Jakarta.
[HIDUP/Christophorus Marimin]

HIDUPKATOLIK.comAda upaya nyata dari masyarakat untuk memerangi hoax. ‘Saring sebelum sharing’ merupakan kesadaran yang harus dimiliki setiap orang. Gereja Katolik pun mulai bergerak.

Kemajuan teknologi dewasa ini menyediakan macam-macam pilihan media komunikasi. Ada chat mobile application, seperti telegram, line, whatsapp serta media sosial, seperti facebook, instagram, twitter, path, dan youtube. Ketersediaan ragam media komunikasi ini membuat para pengguna gadget semakin nyaman mengarungi dunia maya.

Namun kenyamanan berselancar di dunia maya seiring sejalan dengan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh banjir informasi via internet. Sebab tidak semua informasi yang tersedia di sana bertujuan untuk pengembangan diri, tapi berpotensi menghasut dan menyebarkan kabar bohong atau hoax. Hingga saat ini, persebaran hoax dirasa sudah mengancam keamanan dan kenyamanan hidup bersama.

Untuk memerangi hoax, awal Januari lalu, sejumlah masyarakat sipil dan penggiat media sosial yang tergabung dalam Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menggelar kegiatan sosialisasi sekaligus deklarasi Masyarakat Anti Hoax. Kegiatan ini dihelat saat car free day dengan mengambil lokasi sekitar Bundaran Hotel Indonesia Jakarta. Dalam acara yang sama juga diadakan penandatanganan deklarasi oleh duta anti hoax, seperti Olga Lydia, Nia Dinata, Ratih Ibrahim, dan penggiat anti korupsi Judhi Kristantini.

Kata Mereka
Persebaran hoax yang tak terkendali itu mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia sangat haus akan informasi. Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia, Maria Puspitasari menilai, ciri masyarakat sekarang adalah masyarakat yang ingin mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Salah satu sumber informasi adalah berita yang tersebar di grup-grup chat berbasis gadget atau media sosial.

Sayang sekali, kata Puspita, dorongan untuk mengetahui informasi sebanyak mungkin tidak diimbangi dengan kebiasaan membaca secara benar. “Habitus membaca tidak sekadar melihat, tetapi juga memahami dan mencerna informasi yang datang. Logikanya, setiap informasi yang masuk tak harus dipercayai sebagai informasi yang benar. Artinya, logika itu menuntut adanya upaya untuk verifikasi,” ujar Puspita.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*