Artikel Terbaru

Gereja yang Mencari

Gereja yang Mencari
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pada 13 Maret 2013, Gereja Katolik menyambut pengganti Paus Benediktus XVI, Paus Fransiskus. Tak terasa, Paus Fransiskus sudah empat tahun menduduki takhta St Petrus. Apa yang bisa direfleksikan dari empat tahun masa pontifikal Paus kelahiran Argentina ini?

Bisa jadi, terlalu dini untuk mengatakan keberhasilan seorang Paus Fransiskus hanya dalam kurun waktu empat tahun. Tapi nyatanya, tindakan-tindakannya jadi buah bibir media-media internasional. Bahkan, Majalah Time sudah menobatkan Paus Fransiskus sebagai Person of the Year 2013, hanya delapan bulan setelah ia terpilih.

Salah satu hal yang menonjol selama masa pontifikal Paus Fransiskus adalah keberpihakan kepada kaum migran. Kunjungan ke Lampedusa, sebuah pulau terbesar di Kepulauan Pelagie, 205 kilometer dari Sisilia dan 113 kilometer dari Tunisia, menjadi langkah awal keberpihakannya. Lampedusa menjadi gerbang bagi para migran dari Tunisia, Maroko, Libya, dan Mesir untuk masuk ke daratan Eropa.

Dalam kunjungan itu, secara simbolik ia melempar karangan bunga ke laut untuk mengenang para migran yang meninggal dalam perjalanan suaka ke Eropa. Ia pun merayakan Ekaristi dengan beberapa peralatan liturgi yang diambil dari bangkai kapal para migran. Dengan kunjungan pastoral itu, Bapa Suci menunjukkan solidaritas kepada seluruh penduduk di Lampedusa, termasuk ribuan migran. Ketika itu, Pastor Federico Lombardi SJ merefleksikan bahwa tindakan Paus merupakan panggilan solidaritas yang harus dimiliki semua orang, terutama terkait persoalan serius zaman ini, migrasi.

Tak hanya berhenti di situ. Paus Fransiskus juga rutin mengunjungi para migran. Ia membawa beberapa keluarga para migran datang ke Vatikan dan makan bersama. Ia juga menunjukkan sikap melayani paling total yang disimbolkan dengan membasuh dan mencium kaki para migran.

Pastor Thomas Rosica CSB, pemimpin kantor berita The Salt and Light, sebuah media Katolik online yang berbasis di Kanada, merefleksikan empat tahun penggembalaan Paus Fransiskus sebagai Gereja yang terus mencari. Bapa Suci memperlihatkan kepada kita Gereja yang menjadi alat rekonsiliasi. Gereja yang mampu menghangatkan hati. Gereja yang tidak membungkuk pada diri sendiri, tapi selalu mencari orang-orang di pinggiran dan mereka yang hilang. Gereja yang mampu membimbing anggotanya.

Menurutnya, selama empat tahun Paus Fransiskus sudah mewariskan kepada kita buku panduan hidup sebagai warga Gereja yang ideal dalam Evangelii Gaudium, Laudato Si’, dan
Amoris Laetitia. Evangelii Gaudium berisi pedoman hidup di bumi dan menawarkan kepada kita kerangka kerja untuk berhubungan dengan Tuhan dan sesama. Laudato Si’ mengarahkan kita untuk merawat bumi, rumah tinggal kita, yang merupakan anugerah Allah. Sementara, Amoris Laetitia memberikan kita pedoman membangun relasi dalam rumah itu.

Akhirnya, lewat ujaran dan tindakan, Paus Fransiskus mengingatkan Gereja untuk tidak bermegah. Gereja harus sadar bahwa di bumi ini, kita akan selamanya menjadi pendatang dan orang asing yang sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem Baru. Maka pertanyaan reflektifnya, dunia macam apa yang ingin kita wariskan kepada mereka yang datang setelah kita, untuk anak-anak yang kini tumbuh?

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 13 Tanggal 26 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*