Artikel Terbaru

Beato Ambrosius Kim Se–bak (1761–1828): Karena Kristus Telah Menunggu

Paus Fransiskus berdoa di depan tugu 124 Martir di Seasomun , Seoul, Korea Selatan .
[rapller.com]
Beato Ambrosius Kim Se–bak (1761–1828): Karena Kristus Telah Menunggu
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comIman akan Kristus membuat Gun-mi meninggalkan dan menanggalkan segala, termasuk keluarganya. Bersama 124 martir dari Korea, Gun-mi membuktikan bahwa iman selalu memberi kehidupan.

Ambrosius Kim Se-bak memeluk dua anaknya. Hatinya amat sedih karena sebentar lagi ia akan pergi. Ia minggat dari rumah, meninggalkan dua buah hati dan istrinya. Anak-anaknya menangis minta agar ia mengurungkan niat itu. Tapi tekad Ambrosius sudah bulat. Ia harus pergi. Kepada kedua anaknya ia berbisik, “Ayah harus pergi, karena Kristus telah menunggu.”

Kepergian Ambrosius jadi kisah sedih bagi dua anaknya, tetapi menjadi kisah indah bagi misi kekristenan di Korea. Ia melarikan diri karena ingin menjadi katekis. Demi cita-cita ini, Ambrosius pernah mengajak istrinya bermisi bersama. Tetapi sang istri malah melaporkan kepada sang mertua yang notabene membenci orang Kristen. Sebelum berpisah dengan kedua anaknya, Ambrosius menceraikan istrinya. Ia menjadi katekis sampai akhir hayat.

Suami Penyabar
Ambrosius lahir di Seoul pada 1761. Ia lahir dengan nama Gun-mi yang berarti ‘anak rahasia’. Nama ini diberikan sang ayah dengan harapan Gun-mi kelak bisa mengikuti jejak sang ayah, sebagai penerjemah di Kerajaan Dinasti Joseon. Dinasti ini didirikan Raja Yi Seong-Gye (1335-1408). Dalam dinasti ini, ajaran Konfusianisme mendominasi kepercayaan dan pemikiran masyarakat Korea. Di zaman itu ajaran Konfusianisme dipraktikkan bersamaan dengan Buddhisme, Taoisme, dan Shamanisme (kepercayaan asli Korea).

Ketika berkuasa, Dinasti Joseon menolak ajaran Katolik karena dianggap datang dari Barat. Dinasti ini mengeluarkan maklumat anti Katolik yang diberi nama Seohak, ‘menolak semua ajaran dari Barat’. Karena itu, banyak umat Kristen dikejar dan dibunuh, termasuk para misionaris. Ayah Ambrosius masuk dalam lingkaran Dinasti Joseon. Kemampuannya berbahasa asing membuat dia dipercaya sang raja untuk bernegosiasi. Terkadang kesepakatan-kesepakatan, baik antara para misionaris maupun pihak kerajaan dipelintir saat melapor kepada raja; seakan-akan misionaris menolak berkerja sama dengan raja.

Gun-mi tumbuh dalam situasi politik kotor sang ayah. Ia tak bisa berbuat banyak selain jadi robot sang ayah. Soal pilihan pasangan hidup pun ditentukan. Gun-mi dipaksa menikahi seorang gadis bangsawan pilihan ayahnya. Kasat mata pernikahan itu berjalan mulus, karena sang ayah terus memanjakan menantu perempuannya dengan kekayaan. Tapi rupanya kata harmonis masih jauh dari jangkauan keluarga muda ini. Sang istri sering berkata kasar kepada Gun-mi. Ketika mereka sudah punya dua anak pun kebiasaan itu tak berubah. Sang istri kerap memukul dan mencederai anak-anaknya. Tabiat sang istri membuat Gun-mi merasa salah menerima pasangan hidupnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*