Artikel Terbaru

Memaknai Tahun Perdamaian

Memaknai Tahun Perdamaian
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Paus Fransiskus telah mengumumkan bahwa Gereja Katolik mendedikasikan 2017 sebagai Tahun Perdamaian. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres juga mencanangkan 2017 sebagai Tahun Perdamaian. Guterres mengajak semua pihak menempatkan perdamaian di atas segala-galanya dan menjadikan perdamaian sebagai tujuan dan panduan bersama.

Pengumuman dan pencanangan Tahun Perdamaian dari dua tokoh dunia ini tentu didorong situasi dunia dewasa ini. Kita dengar bahwa banyak orang di berbagai negara menderita karena ditimpa bencana alam, seperti tanah longsor, banjir, gempa bumi. Jutaan orang hidup dalam penderitaan karena bencana buatan manusia, seperti konflik di Suriah, Ukraina, Yaman, Sudan Selatan, Nigeria, Kongo, Kolombia, Venezuela, Semenanjung Korea, dan Myanmar. Tahun 2016 diwarnai rangkaian serangan teroris yang memakan korban di Afganistan, Bangladesh, Belgia, Burkina Faso, Mesir, Perancis, Jerman, Irak, Yordania, Nigeria, Pakistan, Tunisia, Turki, dan Amerika Serikat.

Sekitar 51 juta orang mengungsi, entah ke negara lain atau ke tempat lain dalam negaranya, sebagai akibat dari bencana alam dan konflik kekerasan. Di dalam negeri pun kita menyaksikan banyak orang menderita karena ditimpa bencana alam.

Kita mengakui adanya konflik vertikal antara pemerintah dan rakyat, seperti konflik Papua yang telah berlangsung lebih dari lima dekade dan hingga kini belum diselesaikan. Selain itu, ada konflik horizontal antarkelompok masyarakat sipil di berbagai daerah yang mengorbankan banyak orang.

Kita menghadapi terorisme yang mengancam kehidupan dan radikalisme yang mengancam persatuan dalam kepelbagaian. Menghadapi situasi dunia seperti ini, pencanangan Tahun Perdamaian merupakan undangan bagi semua pihak, termasuk kita, untuk bekerja dan bekerjasama demi perdamaian.

Dasar Kemanusiaan
Setiap orang, tanpa diskriminasi, mempunyai aspirasi perdamaian dalam hatinya. Tak ada orang yang tidak mendambakan perdamaian. Bahkan orang-orang yang dipandang sebagai teroris, separatis, atau kriminal pun mendambakan perdamaian.

Namun sejarah manusia dan pengalaman hidup kita mengajarkan bahwa seseorang tak mampu memenuhi aspirasi perdamaian hanya dengan mengandalkan kekuatan dan usaha sendiri. Para korban bencana alam dan korban perang berada dalam posisi yang lemah dan tak berdaya, sehingga tidak dapat memenuhi aspirasi perdamaian. Karena itu bantuan dari sesama sangat diperlukan.

Bantuan kita demi perdamaian tidak didasarkan atas kesamaan agama, ras, dan suku dengan para korban. Kalau hal-hal ini menjadi motivasi yang menggerakkan kita, maka solidaritas kita akan bercorak eksklusif. Kita memberikan bantuan hanya kepada mereka yang mempunyai latar belakang sama dengan kita dan mengabaikan para korban yang berbeda agama, ras, dan suku dengan kita. Partisipasi kita juga menjadi parsial karena diarahkan hanya untuk kelompok tertentu.

Partisipasi kita, sejatinya didasarkan pada kemanusiaan. Kita membuka hati bagi semua orang tanpa mempertimbangkan latar belakangnya. Kita bersikap inklusif dalam menyatakan solidaritas.

Kita mesti menolak aksi kekerasan, seperti perang, pembunuhan, dan penganiayaan yang dilakukan siapapun, entah dengan motif dan tujuan apapun, karena perdamaian tidak bisa diciptakan melalui kekerasan. Suatu konflik dapat diselesaikan melalui jalan nir kekerasan, seperti dialog dan negosiasi antara para pihak yang bertikai.

Berpartisipasi demi perdamaian atas dasar kemanusiaan, para pemimpin agama-agama (Kristen, Katolik, Islam, Hindu, dan Buddha) yang bersatu dalam Forum Konsultasi Para Pimpinan Agama (FKPPA) di Papua, mengingatkan kita untuk memperjuangkan sepuluh nilai, yakni keadilan, partisipasi, rasa aman dan nyaman, harmoni, kebersamaan, pengakuan terhadap harga diri dan kemajemukan, informasi dan komunikasi yang benar, kesejahteraan, kemandirian, dan kebebasan. Tanpa menghidupi dan membela sepuluh nilai ini, perdamaian tak akan tercipta. Maka kita perlu memperjuangkan nilai-nilai ini dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, demi perdamaian.

Neles Tebay

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 7 Tanggal 12 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*