Artikel Terbaru

Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM: Katekese, Kewajiban Semua Pihak

Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM
[NN/Dok.HIDUP]
Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM: Katekese, Kewajiban Semua Pihak
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPewartaan Injil dan pengajaran ajaran iman bukan hanya tugas imam. Awam juga mesti ambil bagian untuk berkatekese.

Ketua Komisi Kateketik (Komkat) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM menilai, katekese sebagai karya strategis untuk mengubah wajah serta kualitas iman umat Katolik Indonesia. Mgr Paskalis mencatat beberapa tantangan katekese, misal jumlah katekis purna waktu masih sedikit, sedangkan ladang pengajaran amat luas. Komkat KWI menempuh beberapa cara untuk menyikapi tantangan itu. Berikut ini petikan wawancaranya:

Bagaimana ketersediaan jumlah katekis yang ada di setiap Keuskupan?

Setahu saya jumlah sukarelawan katekis di Keuskupan-keuskupan cukup banyak. Namun kuantitas yang mencukupi itu apakah diimbangi dengan kualitas yang mencukupi, masih bisa dipertanyakan. Jumlah katekis purna waktu masih kurang mencukupi kebutuhan yang ada. Maka setiap Keuskupan perlu memikirkan strategi penyediaan pengajar iman Katolik yang andal, selain para katekis purna waktu.

Seperti apa peran para katekis ini dalam membantu pastoral para imam?

Banyaknya katekis sukarelawan membantu pastor paroki. Misal, mempersiapkan mereka yang akan dibaptis, menerima komuni pertama dan krisma, pelajaran agama Katolik bagi anak-anak Katolik yang sekolah di sekolah non-Katolik. Mereka juga membimbing pertemuan Aksi Puasa Pembangunan (APP) dan Adven. Alangkah baik dan bergunanya jika para guru agama PNS maupun yayasan meluangkan waktu untuk membantu karya katekese di paroki.

Bagaimana on going formation dari Komisi Kateketik KWI?

Komkat KWI melakukan beberapa on going formation bagi para katekis melalui kerjasama dengan lembaga Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik, Komkat Keuskupan, dan paroki. Tujuannya untuk melatih para guru agama agar memahami serta terampil mengajar berdasarkan kurikulum baru, memberi retret bagi mereka, bersama seksi pewartaan paroki melatih para katekis untuk memimpin Komunitas Basis Gereja (KBG). Komkat KWI juga mengadakan pertemuan nasional (Pernas) bagi katekis lapangan setiap lima tahun sekali. Komkat KWI mendukung pertemuan-pertemuan on going formation bagi para katekis yang diadakan oleh regio, Keuskupan, maupun lembaga kateketik.

Bersama Komisi Seminari KWI, Komkat KWI mengadakan pertemuan para dosen kateketik untuk membekali mereka dengan pemikiran-pemikiran baru di bidang katekese. Begitu juga bersama Komisi Keluarga KWI, kami memberi lokakarya tentang katekese digital bagi keluarga, kepada mereka yang terlibat dalam kerasulan keluarga. Baru-baru ini, Komkat KWI memfasilitasi ziarah para katekis ke Tanah Suci. Program ini dapat dilihat sebagai bagian dari on going formation.

Lantas, soal ketersediaan bahan pengajaran katekese?

Komkat KWI telah menerbitkan buku-buku terkait dengan katekese, antara lain buku pelajaran pendidikan agama pada pendidikan dasar dan menengah, serta perguruan tinggi, buku pembinaan iman bagi anak-anak usia dini, hasil-hasil PKKI dan Pernas Katekis, Katekese Digital dan Sejarah Pewartaan Gereja.

Harapan dan strategi pengembangan katakese ke depan?

Pertama, Gereja Indonesia melalui Keuskupan, tarekat perlu mengembangkan pengajar
iman Katolik. Hingga saat ini, Gereja Indonesia yang terdiri dari 36 Keuskupan, ratusan tarekat religius, hanya mempunyai seorang doktor di bidang Kateketik. Implikasinya, studi dan pendalaman ilmu kateketik dan terapannya dalam berkatekese kurang dikembangkan. Tiga tahun ke depan, kami bertekad dan menganjurkan Keuskupan dan tarekat mengutus imam, awam, bruder atau suster mendalami bidang kateketik hingga tingkat doktoral.

Kedua, bersama lembaga pendidikan tinggi kateketik, Komkat KWI sedang menggumuli secara mendalam identitas ilmu kateketik. Pendalaman ilmu kateketik ini diharapkan membantu pengembangan dan penerapan model berkatekese yang menarik dan aktual sepanjang zaman.

Ketiga, Keuskupan mesti menciptakan rencana strategis agar kaum awam semakin banyak terlibat dalam bidang pengajaran. Kami berkeyakinan, Gereja lebih menekankan tugas mengajar adalah kewajiban awam karena baptisan yang diterima. Katekis tidak sekadar “pembantu” pastor dalam bidang pengajaran iman. Memang, penjaga kebenaran pengajara n tetap berada pada hierarki resmi Gereja.

Edward Wirawan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 8 Tanggal 19 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*