Artikel Terbaru

Kekasih Gelapku Berondong

Kekasih Gelapku Berondong
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh, usia pernikahan saya hampir lima tahun. Tapi kami belum punya anak. Sejak enam bulan lalu, saya menjalin hubungan dengan berondong (anak muda). Usia dia 20 tahun di bawah saya. Hubungan kami sudah cukup jauh. Saya membantunya dalam hal materi, dia pun membantu saya dalam berbagai hal, termasuk kebutuhan jasmani. Bagaimana saya harus membawa hubungan kami ke depan?

Elisabet Hendrina, Surabaya

Saudari Elisabeth Hendrina yang terkasih, perkawinan hampir tiga tahun dan belum dikaruniai momongan tentu menjadi hal berat bagi pasangan suami-istri. Persoalan keluarga menjadi lebih parah dengan kehadiran orang ketiga. Beberapa poin berikut semoga bisa menjadi bahan sharing.

Apa sebenarnya tujuan utama pernikahan? Apakah semata untuk mendapatkan momongan? Jika kita tidak mendapatkan karunia itu, apakah kita akan menggugat Tuhan? Menggugat perkawinan kita?

Pernikahan merupakan proses saling membahagiakan. Kata kuncinya adalah “saling” membahagiakan, ada atau tidak adanya momongan. Dalam konteks ini, maka menjadi penting bagi pasangan suami-istri untuk saling setia sekata melebur menjadi satu kesatuan menempuh biduk rumah tangga.

Saat belum memiliki momongan, mengapa kita tidak mencoba saling mendekat dengan pasangan, apakah tidak adanya momongan akan kita timpakan kepada pasangan, sehingga kita bisa lari dari persoalan? Tidakkah pasangan kita juga akan merasa sedih dan tak berarti ketika belum bisa memberikan momongan?

Dalam situasi demikian, akan lebih baik jika saling berusaha mencari jalan keluar. Mungkin dengan konsultasi ke dokter, banyak mendekatkan diri kepada Tuhan, saling memberikan dukungan, dan menjaga komitmen pernikahan.

Ketenangan dalam pernikahan, kepasrahan pada kondisi akan menjadi media subur untuk tumbuhnya janin. Bisa jadi saat ini Anda berdua sedang diuji kesabaran dan komitmen pernikahan. Banyak pasangan baru diberi momongan setelah lama menikah. Ada yang sampai sepuluh tahun. Kesabaran dan iman mereka diuji. Buah ujian itu adalah momongan yang cerdas dan sehat.

Kondisi Anda saat ini dekat dengan seseorang bukan pasangan dan memberikan banyak support termasuk kebutuhan finansial kepadanya, apakah tak berarti membuka persoalan baru? Apa yang sebenarnya Anda cari? Kenikmatan seksual atau pelarian terhadap situasi saat ini? Apakah suami Anda punya andil terhadap terjadinya perselingkuhan?

Mungkin dengan membuka diri kepada suami akan memberikan satu kekuatan untuk lepas dari kedekatan emosi dengan orang lain. Bagaimana membawa hubungan ke depan? Jika ini terkait dengan hubungan suami, tentu dengan kembali mendekatkan diri kepadanya. Menganyam kain yang rusak dan saling menjaga komitmen. Menyadari diri sendiri sebagai pribadi yang tak lepas dari kekurangan, tentu bisa menjadi awal yang baik.

Tapi jika berkaitan dengan kekasih gelap, cobalah kaji lagi secara rasional. Sejauh ini kontribusi psikologis dan religius apa yang sudah Anda dapat dari kedekatan itu? Relasi dengan seseorang yang bukan pasangan sah, terlebih dengan bentuk relasi seperti Anda dengan berondong, tidakkah lebih kepada bentuk hubungan transaksional?

Evaluasi lagi relasi Anda saat ini dengan orang itu, jagalah jarak, atau bahkan memutuskan hubungan kalian merupakan langkah terbaik yang perlu Anda lakukan. Prioritas saat ini adalah menjaga komitmen, menyelesaikan persoalan keluarga bersama, saling mendekatkan diri, dan menambah kadar cinta, merupakan langkah terbaik untuk menyelamatkan pernikahan kalian dan mencari solusi bersama untuk mendapatkan momongan.

Dewi Setyorini

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 8 Tanggal 19 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*