Artikel Terbaru

Alexandra Herlina: Dokter Sedulur Penolak Tambang

Alexandra Herlina diantara Sedulur Sikep.
[NN/Dok. Pribadi]
Alexandra Herlina: Dokter Sedulur Penolak Tambang
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comHatinya terluka melihat penderitaan para petani Kendeng yang dikungkung gurita tambang. Ia menyembuhkan dengan mengambil bagian dalam jalan penderitaan para petani yang ditimpa ketidakadilan.

Dokter Alexandra Herlina merasa bahagia sekaligus sedih. Bahagia, karena bisa bersua lagi dengan tantenya Sr Stefani SSpS yang selama enam tahun tinggal di Vatikan. Sedih, karena cerita Gunretno, soal perjuangan sedulur (saudara) tani yang menolak ekspansi pabrik semen dan penambangan batu kapur di wilayah pegunungan Kendeng.

Momen itu terjadi taktala Dokter Lina, sapaannya, diajak Sr Stefani mengunjungi Kendeng. Keduanya berangkat dari Surabaya, Jawa Timur dengan kereta api. Gunretno, aktivis Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) menjemput mereka di Stasiun Ngrombo, Grobongan, Jawa Tengah.

Dalam mobil merah marun, Gunretno berkisah kronologi perlawanan masyarakat Kendeng. Hati Dokter Lina tak karuan. Di Rembang, mereka singgah di “tenda perjuangan”, tenda yang didirikan tepat di tepi jalan menuju pabrik semen yang sedang dibangun. Para petani mendirikan tenda tersebut pada 16 Juni 2014 sebagai bentuk protes kepada Pemda Rembang dan Provinsi Jawa Tengah.

Hati Dokter Lina semakin masygul ketika di “tenda perjuangan” ia melihat seorang ibu penuh dengan luka-luka memar di pelipisnya. “Perih rasa di hati,” kenangnya. Pemandangan itu melukai perasaan dan pikirannya. Ia merasa pengabdiannya sebagai dokter yang menyelamatkan pasien tak ada artinya dengan “perang” yang dihadapi para sedulur tani ini; masyarakat pejuang kehidupan dan kelestarian pegunungan Kendeng.

Ikut Berjuang
Gunretno nyaris tak menyembunyikan satu pun kisah perjuangan petani Kendeng melawan raksasa kapitalis bernama gurita tambang. Setiap bab cerita Gunretno menyayat sembilu dalam hati Dokter Lina. “Apa yang bisa saya buat untuk bisa membantu saudara-saudara saya petani Kendeng ini?” sebuah pertanyaan muncul dalam diri alumna Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*