Artikel Terbaru

Gereja dalam Keserakahan Tambang

Gereja dalam Keserakahan Tambang
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Wilayah Manggarai Raya, Flores, Nusa Tenggara Timur, kembali menghadapi ancaman ekologis. Geliat pertambangan di wilayah ini menjadi salah satu isu krusial yang sedang dihadapi Gereja Katolik Keuskupan Ruteng.

Harta karun dalam perut tanah Nuca Lale ini telah lama menjadi “ladang garapan” investor atas “restu” penguasa lokal. Walau kewenangan itu kini beralih ke pemerintah provinsi, namun tetap saja dalam koordinasi dengan pemerintah kabupaten. Maka, de facto, perjuangan Gereja untuk mengusir pertambangan di Manggarai Raya sejatinya adalah perjuangan “melawan” penguasa lokal.

Perampasan
Operasi tambang selalu berawal dari penguasaan lahan. Daya tipu pertambangan berhasil “mengecoh” kesadaran warga lingkar tambang. Mekanisme itu dijamin melalui proses “perampasan legal” oleh penguasa lokal. Kewenangan penguasa lokal kerap dimanfaatkan investor demi mengamankan perburuan harta karun tambang. Penguasa lokal lebih sering menjadi kaki tangan sekaligus bodyguard investor.

Operasi liar pertambangan berakar pada cara pandang yang tak adil terhadap alam. Alam dijadikan obyek pemuasan kepentingan manusia. Kekayaan alam dikeruk untuk melayani hasrat ekonomi kapitalis. Cara pandang antroposentris dalam relasi dengan alam membawa dampak menghancurkan kehidupan.

Tak bisa dipungkiri, perampasan lahan secara “paksa” dengan pendekatan kekuasaan menciptakan krisis multidimensi. Pertama, kehancuran ekologis. Daya dobrak alat-alat berat dan mesin pelahap alam telah merusak harmoni ekosistem. Itulah jejak yang tersisa pada titik pertambangan Serise dan Torong Besi, Manggarai. Kerakusan tambang menyisakan kehancuran yang mematikan.

Kedua, krisis kemanusiaan. Keserakahan tambang berimplikasi pada tersumbatnya perwujudan kemanusiaan yang bermartabat secara sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Praktik dehumanisasi menjadi bagian tak terpisahkan dari kerakusan tambang. Pemiskinan kemanusiaan tampak dalam eksklusi sosial, penggusuran, perbudakan, dan konflik kemanusiaan.

Pengucilan paksa meletupkan konflik dan penolakan warga. Baru-baru ini, warga Nggalak, Reok Barat, Manggarai, menolak secara tegas kehadiran perusahaan tambang karena tidak dilibatkan dalam prosesanalisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan melahap sandaran ekonomi warga (Flores Pos, 20/1). Ada juga aksi penolakan ibu-ibu bertelanjang dada di Tumbak, Manggarai Timur (2014), karena tak ingin sejengkal tanah ulayat mereka dikuasai investor tambang. Penolakan warga terhadap investor juga bisa berujung pada peristiwa pembunuhan, sebagaimana terjadi di wilayah Tanjung Boleng, Manggarai Barat pada Januari 2017 (Flores Pos, 19/1).

Ekologi Kemanusiaan
Sinode III Keuskupan Ruteng telah menyikapi ancaman ekologis pertambangan. Umat bersama segenap agen pastoral berkomitmen menolak semua bentuk aksi pertambangan. Tambang sebagai anak kandung kapitalisme neoliberal terbukti menjadi pembunuh berdarah dingin, bukan saja bagi keselamatan lingkungan, melainkan juga bagi masa depan kemanusiaan. Tambang untuk konteks Manggarai sudah pasti menyiapkan neraka bagi masa depan ekologi yang menghancurkan anak-cucu kemudian.

Paus Fransiskus, melalui Ensiklik Laudato Si’ (2015), menggugat perhatian dunia untuk memelihara lingkungan hidup. Seruan apostolik yang memberi resonansi ekologis melampaui batas agama dan kultural. Dengan kacamata spiritual, Paus Fransiskus melihat alam sebagai rumah, saudari, dan ibu kehidupan. “Bumi, rumah kita bersama, bagaikan saudari, yang dengannya kita membagikan kehidupan, bagaikan mama yang indah, yang merangkul kita dalam pelukannya” (LS art.1).

Seruan Paus Fransiskus ini terkait langsung dengan ekologi-kemanusiaan. Ia melihat satu-kesatuan relasi cinta manusia dengan alam yang mesti terungkap dalam upaya pelestarian lingkungan. Gereja, saya, Anda, siapapun adalah bagian 0dari lingkungan. Mari merawat bumi, menolak penindasan alam, serta menciptakan surga bagi kemanusiaan.

Silvianus M. Mongko

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 8 Tanggal 19 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*