Artikel Terbaru

Romo Y. Aristanto Hari Setiawan MSF: Cari Pasangan Seiman

Y. Aristanto Hari Setiawan MSF.
[NN/Dok.Pribadi]
Romo Y. Aristanto Hari Setiawan MSF: Cari Pasangan Seiman
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAngka perkawinan beda agama dan Gereja di Indonesia tergolong tinggi. KJK memediasi orang muda untuk saling mengenal dan menemukan teman hidup seiman.

Pada 2011, Komisi Keluarga Keuskupan Agung Semarang membuat survei perkawinan Gereja Katolik. Hasil survei menemukan, 98% perkawinan beda agama dan Gereja diawali dengan semangat untuk saling menghormati satu sama lain. Dalam perkembangan, 52% mereka yang menikah beda agama dan Gereja mengalami dua hal. Pertama, mereka yang Katolik kesulitan untuk menghayati dan mewujudkan iman Katolik. Kedua, mereka mengalami kesulitan, terutama bagi pihak yang Katolik untuk membaptis dan mendidik anak secara Katolik.

Realitas ini memunculkan gagasan untuk membentuk wadah bagi orang muda Katolik agar bisa bertemu, bersahabat, dan membangun hubungan yang lebih dekat. Komunitas Jomblo Katolik (KJK) merupakan salah satu jawabannya. Berikut ini petikan wawancara dengan Moderator KJK Indonesia yang juga Direktur Pusat Pastoral Keluarga MSF, Romo Yohanes Aristanto Hari Setiawan MSF.

Apa peran KJK?

Di antara banyak komunitas orang muda yang ada di berbagai keuskupan, KJK mau mengambil bagian untuk membantu para jomblo Katolik usia 30-40 tahun untuk mendapatkan pasangan hidup yang seiman. Selain KJK, juga ada beberapa kelompok yang mempunyai motivasi yang sama. KJK hadir untuk memfasilitasi orang muda untuk menemukan dan memilih pasangan hidup yang seiman.

Apakah KJK mempresentasikan perhatian Gereja dalam mempersiapkan orang muda memilih pasangan?

Kemunculan komunitas ini tidak dimaksudkan untuk mempresentasikan perhatian Gereja dalam mempersiapkan kaum muda memilih pasangan hidup. Tapi komunitas ini mau ikut mengambil bagian dalam keprihatinan Gereja terhadap hidup orang muda. KJK sebatas mempertemukan dan mendampingi proses perjumpaan kaum muda untuk mendapatkan pasangan hidup.

Bagaimana pola pendampingan KJK dan apa hasilnya?

KJK berdiri lewat media sosial Facebook yang dikelola oleh pengurus. Ini diikuti orang muda Katolik yang masih “jomblo”, belum pernah menikah, dan
belum berpacaran. Dalam Facebook itu dicantumkan beberapa syarat untuk menjadi anggota KJK. Di media itulah mereka berkenalan satu sama lain. Perjumpaan itu kemudian difasilitasi dengan kopi darat di unit-unit kecil untuk sharing pengalaman dan bertemu sebagai komunitas. Peran pengurus adalah mendampingi teman-teman sehingga perjumpaan itu tak disalahgunakan untuk kepentingan lain. Selain itu, ada Jambore Nasional KJK Indonesia untuk mempertemukan dan memfasilitasi orang muda untuk bertumbuh menjadi pribadi yang semakin dewasa dan siap membangun relasi dengan orang lain. Mereka dibantu untuk mencari dan menjadi pasangan hidup yang baik.

Apa anjuran Gereja untuk orang muda dalam memilih pasangan?

Gereja mendorong orang muda untuk mencari teman hidup yang seiman dan
menghindari bahaya yang bisa menjauhkan diri dari iman Katolik. Selain itu, tentu ada syarat dasar manusiawi, seperti kedewasaan hidup dan bijak dalam berelasi dengan sesama. Dalam katekese Teologi Tubuh, Paus Yohanes Paulus II mengajarkan pentingnya orang muda untuk bertumbuh dalam kedewasaan dan kasih yang dewasa, terutama dalam hal seksualitas. Yang menarik dari pengajaran itu adalah sebelum orang muda berpacaran atau bertunangan, mereka perlu membangun pengenalan pribadi, membangun persahabatan yang baik, dan mengenalkan sahabatnya itu kepada keluarga.

Harapan Romo ke depan?

Harapan saya untuk KJK adalah melengkapi pendampingan KJK mengenai kedewasaan dan relasi, serta persiapan hidup berkeluarga. KJK juga mesti membangun sebuah media yang lebih baik untuk menghubungkan orang muda Katolik, terutama membantu mereka mencari teman yang seiman dan dekat dengan domisili mereka sehingga persahabatan mereka lebih intensif. Untuk orang muda yang menginginkan hidup berkeluarga, hendaknya mempersiapkan diri dengan sungguh dalam kedewasaan hidup dan iman. Hidup berkeluarga yang baik dimulai dengan menginvestasikan bekal sebelum perkawinan dimulai. Gaudeamus igitur Juvenes dum sumus. Bersukacitalah ketika kita masih muda.

Marchella A. Vieba

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 9 Tanggal 26 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*