Artikel Terbaru

Buah Puasa, Pantang, dan Amal

Buah Puasa, Pantang, dan Amal
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSebagai persiapan perayaan Paskah Kebangkitan Tuhan, kita melakukan pantang, puasa, dan amal. Mengapa untuk tujuan religius kita perlu melakukan hal-hal jasmaniah itu? Apakah tak cukup persiapan rohaniah saja, misal memperbanyak doa, makin sering membaca Kitab Suci, melakukan retret, rekoleksi, dan seminar rohani? Apa manfaat puasa?

Hari Oentoeng, Kepanjen, Malang

Pertama, Tuhan menciptakan kita sebagai manusia yang mempunyai dimensi badan, jiwa, dan roh (1 Tes 5:23). Kita mengalami, menghayati, dan mengungkapkan segala peristiwa dalam hidup ini dengan keseluruhan diri kita. Misal ketika kita percaya kepada Yesus sebagai Penyelamat, kita mengungkapkan iman kita dalam ritus Sakramen Baptis, dan kemudian diterima ke dalam komunitas murid-murid Tuhan. Pelaksanaan ritus itu tak lepas dari aspek jasmaniah dan dimensi yang kelihatan, tapi mengungkapkan makna religius, yaitu persatuan dengan Yesus Kristus. Ritus Sakramen Baptis mempunyai dampak pada keseluruhan diri manusia, baik badan, jiwa maupun roh.

Kedua, sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang kita alami hanya pada salah satu dimensi saja, misal rohani atau kejiwaan atau badaniah saja. Jika kita ingin menghayati sesuatu dalam hidup, pasti ketiga dimensi itu akan terlibat dengan sendirinya. Ungkapan cinta kita hanya akan ada di awang-awang jika tidak pernah dikonkretkan dengan dimensi kejiwaan dan badaniah. Pengkonkretan itu bukanlah sesuatu pilihan mana suka atau tambahan sampingan, tapi suatu tuntutan yang perlu menguji kesungguhan cinta itu sendiri. Tanpa ungkapan yang kelihatan dan bisa diinderai, cinta itu bisa sangat diragukan dan menjadi tidak manusiawi.

Demikian pula, persiapan untuk peristiwa religius Paskah tak bisa dilakukan hanya pada dimensi rohani saja. Sebuah pertobatan baru menjadi sejati jika diwujudkan dalam perubahan kejiwaan dan tingkah laku. Segala kegiatan rohani yang tidak diwujudkan pada dimensi kejiwaan dan badaniah pada intinya adalah mandul, tidak berbuah. Tanpa ungkapan konkret manusiawi, kita mudah menipu dan berpuas diri dengan yang rohani. Nabi Yesaya mengecam hal ini sebagai kesalehan palsu, karena sementara berpuasa, orang-orang masih berbantah, berkelahi, saling memukul dengan semena-mena. Perbuatan-perbuatan rohani harus diungkapkan dalam pertobatan yang konkret, misal membuka belenggu kelaliman, melepaskan tali kuk, memberi makan orang lapar, dan yang lain (bdk. Yes 58:1-7).

Ketiga, salah satu perwujudan konkret pertobatan ialah berpuasa. Puasa adalah panggilan pertobatan yang diarahkan kepada tubuh kita. Puasa adalah sarana membebaskan diri dari segala hawa nafsu yang membelenggu hidup batin kita. Maka kita akan lebih terbuka pada kehendak Allah, mengenali kerinduan dan kebutuhan kita akan Allah. Dengan berpuasa, kita dimampukan untuk mempercayakan diri kepada kebaikan dan belaskasihan Allah. Puasa membantu kita bergantung pada Allah dan tidak mengandalkan diri kita sendiri. Maka puasa membantu kita memenuhi Sabda Bahagia yang pertama, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Allah” (Mat 5:3).

Banyak orang kudus yang memberikan kesaksian bahwa puasa mengalirkan kuasa Allah untuk mengubah kelemahan atau dosa yang sudah lama mengakar dan sulit diubah, dan hanya berhasil diubah melalui puasa. Kebiasaan dosa yang sudah kuat-mengakar bisa dicabut dan diubah melalui puasa.

Keempat, puasa juga membuat kita terbuka merasakan pengalaman orang lain yang membutuhkan. Sudah sejak komunitas awali, ada kebiasaan menyisihkan hasil puasa untuk disumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan (bdk. 2Kor 8-9; Rm 15:25-27). Dengan demikian, puasa membantu kita mampu mengasihi Allah dan sesama melalui mati raga maupun melalui perbuatan amal kita.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 9 Tanggal 26 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*