Artikel Terbaru

Bahagia Memasuki Pensiun

Bahagia Memasuki Pensiun
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh yang baik, dua tahun lagi saya akan pensiun dari tempat kerja. Apa yang perlu saya persiapan selama memasuki masa pensiun ini? Jika menerima uang pesangon sebaiknya saya pergunakan untuk apa? Sehingga saya dan istri bisa terus melanjutkan hidup dan tak membebani anak-anak. Mohon pencerahan.

Dionisius Jaka, Surabaya

Bapak Jaka yang baik, perubahan hidup membuat orang harus beradaptasi. Kemampuan adaptasi tiap orang berbeda. Perubahan hidup tak hanya terjadi bagi orang yang akan pensiun tapi mulai sejak anak-anak.

Perubahan pertama dalam kehidupan manusia adalah saat lahir ke dunia. Banyak orang bijak mengatakan, dunia yang dingin membuat bayi menangis ingin kembali ke rahim ibu yang hangat penuh kasih. Setengah tahun setelah bayi menerima makanan hanya air susu ibu (ASI), ia belajar menghadapi perubahan lagi yaitu merasakan makanan selain ASI.

Setelah itu, masih banyak penyesuaian lain yang dipelajari manusia. Ahli psikologi dari Jerman, Erik Erikson menyatakan, seseorang yang berhasil melampui perubahan-perubahan kehidupan sebelumnya, akan mudah menjalani perubahan-perubahan masa tuanya. Tapi tiap orang yang mengalami perubahan, termasuk pensiun, merasakan tahapan. Menurut Kathy Prochaska-Cue, ahli ekonomi keluarga (2008), ada empat tahap pensiun.

Pertama, transisi. Terjadi sejak hari pertama sampai tiga tahun setelah tak bekerja. Pensiunan berubah identitas dari pegawai menjadi orang bebas. Banyak yang merasa bergairah menjalani perubahan, merasa bebas, dan tak ada beban berat lagi.

Kedua, aktif. Para pensiunan melakukan berbagai kegiatan untuk mengisi hari, seperti reuni. Bahkan, karena begitu merasa bebas, ada yang lama menjanda atau menduda merasa perlu menikah lagi untuk mengisi hari-hari “bebasnya”.

Ketiga, pasif. Pada masa ini para pensiunan merasa sudah cukup banyak pengalaman yang dijalaninya atau tempat yang dikunjunginya. Akibatnya, para pensiunan mulai selektif memilih kegiatan. Masa ini berlangsung sepuluh sampai lima belas tahun.

Keempat, final. Pensiunan mulai memerlukan layanan kesehatan, bahkan layanan orang lain di rumah. Seseorang merasa bergantung dengan orang lain, dan mulai sibuk dengan pertanyaan kapan kehidupan ini berakhir.

Ada empat cara melihat pensiun. Pertama, memandang pensiun sekadar transisi kehidupan, sehingga tak menjadi masalah. Kedua, masa pensiun sebagai masa bahagia. Orang-orang itu berbahagia setelah tak bekerja. Ketiga, pensiun sebagai masa meneruskan kegiatan-kegiatan positif. Keempat, pensiun sebagai masa destruktif. Mereka merasa kehilangan pekerjaan, tak dipakai, dihormati, punya teman sebaya, punya jasa yang diingat generasi muda.

Sementara itu ada tiga persiapan memasuki pensiun, yakni psikologis, sosial, dan finansial. Mereka yang melihat pensiun sebagai proses biasa dan perubahan sebagai tantangan, akan merasa bahagia dengan perubahan ini. Sangat baik bila para pensiunan memiliki kelompok yang saling mendukung dalam menjalani kehidupan baru. Persiapan finansial diperlukan karena masih memerlukan makan, perumahan, dan kesehatan. Pesangon sebaiknya direncanakan dan dibicarakan dengan istri dan anak-anak agar tak ada konflik kelak.

Pesangon bisa ditabung atau didepositokan. Bunganya bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari; investasi dalam rupa tanah atau emas; atau modal usaha jika Bapak masih memiliki energi berwirausaha. Tiap pilihan punya risiko, silakan Bapak mempertimbangkan dengan kondisi pribadi dan keluarga. Semoga Bapak dan keluarga mensyukuri dan berbahagia menjalani kehidupan baru nanti.

Margaretha Sih Setija Utami

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 9 Tanggal 26 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*