Artikel Terbaru

Martina Bintari Dwihardiani: Bersyukurlah, Jangan Mengeluh

Martina Bintari Dwihardiani.
[NN/Dok.Pribadi]
Martina Bintari Dwihardiani: Bersyukurlah, Jangan Mengeluh
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comProfesi dan rasa kemanusiaan membuat ia pergi ke sejumlah negara terdampak konflik dan bencana. Ia bersyukur kepada-Nya karena hidup di Indonesia.

Martina Bintari Dwihardiani berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang guru di Sekolah Menegah Atas (SMA). Sementara ibunya mengurus pekerjaan rumah tangga. Bintari punya cita-cita menjadi dokter. Impian itu timbul lantaran teladan sang ayah, yang gemar membantu masyarakat. Selain itu ia tertarik dengan ilmu pasti, biologi, dan manusia.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Lulus SMA, Bintari berhasil masuk Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta. Suatu hari, saat masih mengenyam bangku pendidikan, putri pasangan Hubertus Hardi Tjandraatmadja dan Agnes Ni Ketut Nguni membaca sebuah artikel kecil tentang karya Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas.

Misi MSF umumnya berada di daerah konflik, terpencil, miskin, dan minim akses kesehatan. Bola mata anak kedua dari tiga bersaudara itu berbinar. Segurat senyum terlukis di wajahnya. Ia tertarik dan ingin bergabung dengan kelompok yang sempat mendapat Nobel Perdamaian pada 1999 itu. Tapi ia harus sabar menunggu, sebab kuliahnya belum rampung.

Misi Pertama
Tak lama Bintari menyandang predikat dokter, rupanya MSF mencari tenaga medis bagi para pekerja seks komersial (PSK) di kawasan Cijantung dan Jatinegara, Jakarta Timur. Bintari segera mengirim lamaran dan mengikuti wawancara dengan Kepala Misi dan Koordinator Medis MSF. “Tuhan mendengar doa saya. Saya bisa memulai pekerjaan impian ini,” kenangnya.

Perempuan kelahiran Jakarta, 9 Maret 1978 itu amat menikmati misi pertamanya di sebuah klinik. Bintari sadar, tak sedikit pasiennya sungkan ke klinik dan mengungkapkan keluhan mereka. Maka ia bersama koleganya kadang meninggalkan klinik dan menemui pasien di tempat mangkal atau sekitar area praktik.

Cijantung, kenang Bintari, masih berupa lokalisasi pada sekitar 2003. Sementara di Jatinegara dan Manggarai, para PSK melakukan aktivitas seksual di sekitar rel kereta api. Usia mereka mulai dari anak-anak di bawah umur hingga tua. Bintari dan koleganya melakukan layanan medis mulai siang hingga malam, menyesuaikan jadwal “operasi” calon pasien.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*