Artikel Terbaru

SMP St Yusuf Pacet (Sanyupac): Emas Sekolah “Bhinneka” Ursulin

Pementasan Opera Peringatan 50 tahun Sanyupac yang menyuguhkan nuansa kebhinnekaan.
[NN/Dok.Sanyupac]
SMP St Yusuf Pacet (Sanyupac): Emas Sekolah “Bhinneka” Ursulin
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSanyupac dikenal sebagai sekolah bhinneka, multietnis, dan multiagama. Pendidikan berkarakter dan disiplin menjadi stempel sekolah Katolik asuhan Suster Ursulin, yang mayoritas siswanya beragama Islam.

Bunyi alunan musik barongsai terdengar begitu semarak. Selain barongsai, suguhan musik campursari dan band bergaya anak muda, serta opera “Kebhinnekaan” juga menjadi menu pertunjukan. Halaman SMP St Yusuf Pacet (Sanyupac), Mojokerto, Jawa Timur, diisi tenda dan panggung pertunjukan.

Tampak banyak tokoh masyarakat hadir, antara lain Kabid Dikmen sebagai utusan Kepala Dinas Kabupaten Mojokerto, Sumarsono; Camat Pacet, Norman Handito; Kapolsek Pacet, AKP Didik Hariono, utusan Danramil Pacet, Pelda Parjo; Pengawas Sekolah Hj. Lilik Hariati dan Hj. Aslikhatul Mahmudah; pensiunan guru dan alumni. Mereka disambut dengan aneka pertunjukan budaya pada Rabu, 1/2. Itulah momen bersejarah peringatan 50 tahun Sanyupac yang bertajuk “Persembahan Kasih”. “Pendidikan berkarakter dan disiplin menjadi ciri khas sekolah ini sehingga tetap menjadi sekolah pilihan dan kepercayaan masyarakat,” ungkap Heru Subiantoro mewakili alumni.

Keinginan Masyarakat
Pada 1929, para misionaris Ursulin (Ordo Santa Ursula, OSU) membeli tanah seluas 7,3 hektar di lereng Bukit Weling Pacet. Di sana akhirnya berdiri Biara Ursulin sekaligus Rumah Retret pada 1933. Nahas, pendudukan Jepang membuat para suster misionaris harus mengungsi ke Surabaya, Jawa Timur. Tempat itu diduduki Jepang dan hancur akibat perang kemerdekaan.

Hingga 1960, tanah itu ditinggal begitu saja. Lalu muncul prakarsa untuk membangun kembali biara dan rumah retret. Dan selama 20 tahun itu, penduduk telah menempati lokasi tersebut. Tiga pioner, Sr Liboria OSU, Sr Emerentiana OSU, dan Sr Romana OSU berjibaku merealisasikan rencana membangun kembali biara dan rumah retret. Izin mulai diurus. Berkat kebaikan Camat Pacet, Danus dan Walikota Mojokerto, R. Winanto, masyarakat yang telah 20 tahun menempati lokasi itu sukarela pindah dan menyerahkan kembali tanah itu. Setelah diukur, tanah itu menjadi 6,9 hektar hingga kini.

Pembangunan Biara Stella Matutina, yang lebih dikenal sebagai Panti Samadi Bintang Kejora, pun dimulai. Ketika proses pembangunan, masyarakat menginginkan agar para suster sekaligus mau membuka SMP di sana. Gayung bersambut, para pengikut St Angela Merici ini menanggapi positif keinginan warga. Setelah Bintang Kejora selesai dibangun, di bawah naungan Yayasan Paratha Bhakti, Sanyupac resmi didirikan pada 1 Februari 1966. Tahun pelajaran pertama dimulai Januari 1967 dengan tujuh murid; salah satunya adalah putri Danus.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*