Artikel Terbaru

Tanda Takhta Lowong

Pileolus

HIDUPKATOLIK.com – Saat ini beberapa takhta keuskupan sedang lowong (sede vacante). Ketika masih ada Uskup yang memimpin keuskupan, nama baptis Uskup selalu disebutkan dalam Misa, pada bagian Doa Syukur Agung (DSA), setelah nama Paus yang juga sedang bertakhta. Jika Paus atau Uskup belum terpilih, maka ketiadaan penyebutan nama mereka menandakan situasi kekosongan takhta itu. Di beberapa keuskupan penyebutan nama Administrator Diosesan dalam DSA sudah menjadi kebiasaan, meski sebenarnya keliru.

Penyebutan Paus dan Uskup dalam DSA memiliki sejarah panjang. Praktik itu mulai disisipkan dalam Kanon Roma sejak awal abad IV, selanjutnya jadi bagian tetap DSA pada abad V. Di kota Roma hanya nama Paus, yang juga adalah Uskup Roma, yang disebutkan. Dalam Liturgi Romawi, konsep Gereja selalu dikaitkan dengan peran pemimpinnya. Di luar Roma, di samping nama Paus sebagai pemimpin Gereja, juga disebutkan nama Uskup setempat. Tradisi ini bertahan sampai kini. Apa maknanya? Misa hanya mungkin dirayakan dalam kesatuan dengan Uskup yang bertanggung jawab atas Gereja Partikular dan dengan Paus atau Uskup Roma yang memimpin Gereja Universal. Dalam surat kepada umat Smirna, Ignatius Antiokia mengingatkan mereka agar selalu berhimpun bersama Uskup, karena bila ada Uskup, di situ ada Gereja; demikian juga bila ada Kristus, di situ ada Gereja (Ad Smirnenses VIII, 1-2).

Cara penyebutan nama pejabat Gereja itu di jelaskan dalam “Pedoman Umum Misale Romawi” (PUMR), semacam pendahuluan dari buku Misale Romawi (MR). PUMR sendiri mengalami beberapa kali perubahan, termasuk bagian tentang penyebutan nama Uskup. Jejaknya juga ditemukan dalam Misale Romawi Trente yang diperbarui pada 1962. Lalu pembaruan liturgi pasca-Konsili Vatikan II merumuskan kembali dan tertuang dalam PUMR 1969 (editio typica) pada paragraf No. 109. Dalam perkembangan terjadi enam kali perubahan MR: tahun 1969, 1970, 1975, 2000, 2002, 2008. Pada PUMR editio prae-typica tertia (2000) No. 109 mulai menjadi No. 149, hingga editio typica tertia emendata (2008). Perubahan terbanyak memang pada PUMR 2000.

Dalam PUMR 1969/1970 (No. 109) tidak disebutkan tentang Uskup setempat bila bertindak sebagai selebran. Baru ditambahkan pada PUMR 1975, baik ketika Uskup merayakan Misa di wilayah keuskupan sendiri atau di luar. Uskup hanya mengucapkan “saya, hamba-Mu yang hina ini”. Lalu dalam PUMR 2000 (No. 149) ditambahkan petunjuk jika Uskup merayakan di luar keuskupannya: “saya, hamba-Mu yang hina ini, serta saudara saya, …, Uskup Gereja … ini”. Posisi penyebutan nama kemudian ditukar pada PUMR 2008. Uskup tamu menyebutkan dulu nama Uskup setempat, baru dirinya: “saudara saya, …, Uskup Gereja … ini, serta saya, hamba-Mu yang hina ini”.

Penyebutan Paus atau Uskup dalam DSA mengingatkan kita pada prinsip eklesiologis, bahwa Gereja didirikan Kristus yang mengutus Para Rasul dan penggantinya untuk menjadi gembala Gereja-Nya sampai akhir zaman. Setiap Uskup mewakili Gerejanya sendiri, sedangkan semua Uskup bersama Paus mewakili seluruh Gereja dalam ikatan damai, cinta kasih, dan kesatuan (Lumen Gentium, 18; 23). Yang disebutkan ialah nama Kristennya, bukan nama lengkap. Artinya, tidak terutama untuk mengacu kepada Paus atau Uskup sebagai pribadi, tapi lebih untuk menyatakan kehadiran Gereja sebagai kesatuan dengan struktur hierarkis dan umatnya. Boleh juga imam menambahkan nama-nama Uskup Koadjutor dan Uskup Pembantu, atau disebutkan secara kolektif tanpa nama: “dan para Uskup pembantunya”. Tapi nama Uskup Emeritus tak disebutkan.

Tradisi ini merupakan ekspresi komunitas eklesial yang beraroma teologis dan yuridis. Tingkat pejabat lain yang sederajat dengan Uskup disebutkan sebagai “Vikaris/ Prelat/ Prefek/ Abbas kami…”. Adminis trator Apostolik juga, karena setara dengan Uskup dan ditunjuk Paus untuk sementara. Imam yang dipilih Kolegium Konsultor Keuskupan menjadi Administrator Diosesan tak terhitung dalam pemahaman teologis dan yuridis doa itu. Maka, tak perlulah memaksa diri menyebutkan namanya dalam DSA; dan frase “Uskup kami, …” dihapus saja tanpa ganti. Itulah tanda takhta Uskup sedang lowong.

C. H. Suryanugraha OSC

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 9 Tanggal 26 Februari 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*