Artikel Terbaru

Satu Tarikan Napas

Satu Tarikan Napas
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pada masa Perang Dunia I dan Perang Dunia II, reksa pastoral untuk kalangan militer berkembang. Pengangkatan Uskup Militer dilakukan oleh Paus Benediktus XV pada 24 November 1917.

Di Indonesia, pendirian Ordinariat Militer Indonesia (Ordinariatus Castrensis Indonesia/ OCI) atau Keuskupan Militer berawal dari permintaan Menteri Pertahanan RI kala itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pada 3 November 1949, Sultan Hamengku Buwono IX membentuk staf untuk menangani kebutuhan rohani angkatan perang Indonesia.

Menanggapi hal itu, Gereja melalui Kongregasi Suci untuk Pengembangan Iman (Propaganda Fidei) yang saat ini bernama Kongregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa, Vatikan mendirikan OCI dengan Decretum (Surat Kepu-tusan) No. 102/50, 25 Desember 1949. Melalui surat keputusan itu sekaligus diangkat Vikaris Apostolik Semarang Mgr Albertus Soegijapranata SJ sebagai Uskup pertama Ordinariat Militer Indonesia. Lingkup kekuasaan dan tanggung jawab Uskup Militer di Indonesia diatur berdasarkan Decretum No. 103/50, 25 Desember 1949.

Ordinariat Militer memiliki tugas menjalankan karya pastoral spiritual bagi umat Katolik di lingkungan militer dan kepolisian. Tugas ini merujuk pada Konstitusi Apostolik Spirituali Militum Curae yang ditetapkan Paus Yohanes Paulus II, 21 April 1986. Pemerintah Indonesia menyambut baik pendirian OCI, namun tidak ada keputusan resmi dari pemerintah, sehingga OCI ini “tidak diakui” secara resmi dalam tubuh TNI/POLRI.

Keberadaan OCI diharapkan bisa menyapa, mendukung, dan mengembangkan pelayanan spiritual bagi para prajurit, perwira TNI/POLRI. Keberadaan OCI ini juga diharapkan menjadi komunitas untuk saling menguatkan, baik dari segi iman Katolik maupun dalam pelaksanaan tugas-tugas sebagai prajurit TNI/POLRI.

Semboyan Mgr Soegija, “seratus persen Katolik dan seratus persen Indonesia” mesti menjadi acuan dan dihidupi para prajurit Katolik TNI/POLRI, sehingga pengabdian diri bagi Gereja dan negara berada dalam “satu tarikan napas”.

Dalam melaksanakan tugas negara yang diemban di pundaknya, seorang prajurit diharapkan tetap membawa dan menghembuskan “napas” Katolik dan dasar negara Pancasila. Setiap perwujudan nilai-nilai Pancasila dalam tugas, aktivitas, pelayanan yang dilakukan para prajurit TNI/POLRI juga merupakan perwujudan iman sebagai seorang Katolik.

Para prajurit, perwira mesti bisa membawa diri, memberi warna, dan melayani di dunia militer. Panggilan menjadi garam dan terang menjadi panggilan para prajurit, perwira Katolik TNI/POLRI. Hal ini bisa ditunjukkan dengan memberi kesaksian nyata melalui pelaksanaan tugas, kedisiplinan, nilai-nilai positif, seperti kasih, keadilan, kejujuran
dalam derap langkah hidup sehari-hari.

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat 5:13-16).

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 14 Tanggal 2 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*