Artikel Terbaru

Belajar dari Derita dan Hebatnya Keluarga

Belajar dari Derita dan Hebatnya Keluarga
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSetiap keluarga punya persoalan dan derita berbeda. Kaum perempuan sering paling banyak menderita. SAGKI belajar dari keluarga hebat yang mengatasi aneka derita.

Kepala Ira Retnowati seolah ingin pecah. Kalbunya bergolak, terbakar amarah. Betapa tidak, laki- laki yang telah sembilan tahun hidup bersamanya, meninggalkan dirinya dan dua buah hatinya. Ira tahu, suaminya menjalin relasi dengan perempuan lain. Tapi toh ia masih membuka pintu maaf untuk pasangan hidupnya itu. Namun laki-laki itu bergeming.

Suatu pagi, 12 tahun silam, pikiran Ira sungguh kalut. Litani penderitaan psikis yang ia alami dari sang suami sejak tahun pertama pernikahan mereka, meletus pada persoalan perselingkuhan. Rumah yang seharusnya memberikan kesejukan, hari itu ia rasakan bak neraka. Maka ia memboyong dua anaknya keluar rumah.

Jalan Pintas
Tak ada tujuan yang jelas ke mana ia harus pergi, atau kepada siapa ia bisa membagikan beban hidupnya. Dirinya merasa sendirian. Dalam situasi keruh itu, Ira tergoda untuk mengambil jalan pintas, bunuh diri. Baginya, jika mereka mati, segala derita hidup pasti bakal berakhir.

Ira dan anak-anaknya naik taksi sekitar pukul 09.30. Di dalam kendaraan itu, Ira spontan menyuruh sang sopir ke stasiun kereta api Manggarai, Jakarta Timur. Kala itu, situasi Stasiun Manggarai cukup ramai. Turun dari taksi, perempuan kelahiran Jakarta, 43 tahun silam itu menggandeng dua anaknya yang baru berusia enam dan dua tahun. Begitu sampai di peron stasiun, si bungsu bertanya kepada ibunya. “Bu, kita mau ke mana? Apakah kita mau jalan-jalan?” kata putrinya sambil tersenyum. Tak dinyana, suara mungil itu memecah lamunan Ira. Pertanyaan anaknya menyadarkan dan mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.

Empat tahun Ira dan dua buah hatinya hidup dalam situasi tanpa kepastian. Beruntung pendidikan dua anaknya tak terenggut meski sempat diasuh oleh orangtua Ira dan tantenya. Seiring waktu, sang suami kembali melancarkan intimidasi kepada Ira. Kesabarannya pupus, ia menggugat cerai sang suami di pengadilan. “Keputusan itu saya ambil untuk menyelamatkan masa depan saya dan anak-anak,” ungkapnya.

Lepas dari bayang-bayang mantan suami, tak berarti tekanan batin Ira berkurang. Status janda membuat Ira menjadi bahan pergunjingan umat paroki. Selain dicibir umat paroki karena tidak diperbolehkan menerima Komuni, mereka juga su’udzon ( berprasangka buruk) bahwa Ira adalah penggoda iman. Niat mulia dan tulusnya untuk membantu paroki kandas. Padahal, sebagai analis data, ia ingin memperbaiki administrasi paroki. “Jangan menjadi batu sandungan umat,” katanya meniru pernyataan pastor paroki. Ira lantas pindah paroki. Syukur, di paroki orangtuanya lebih akomodatif.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*