Artikel Terbaru

Novisiat Sananta Sela MSC: Batu Penjuru dari Kebumen

Hidup Rukun: Para Novis dan Formator di samping rumah Novisiat Sananta Sela.
[NN/Dok.Vst.Asmodiwongso]
Novisiat Sananta Sela MSC: Batu Penjuru dari Kebumen
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDi rumah ini, calon imam Misionaris Hati Kudus (MSC) dibentuk menjadi batu penjuru. Para novis digembleng sampai serupa hati kudus Yesus, Sang Batu Penjuru.

Lantunan ayat-ayat Alquran terdengar dari Aula Novisiat MSC Sananta Sela, Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah (Jateng). Umat Muslim yang merupakan masyarakat sekitar novisiat berkumpul mengadakan kenduri syukur pesta emas Novisiat MSC Sananta Sela. Setelah ayat-ayat Alquran dirapalkan, seorang ustad dengan takzim memanjatkan doa bagi para pastor dan frater. Aneh, tapi itulah gambaran begitu eratnya hubungan antara Novisiat Sananta Sela, dengan warga sekitar. Sebuah relasi yang dibangun sejak novisiat itu berdiri. Kehadiran umat muslim itu seakan menjadi tanda bahwa nilai kebersamaan telah menjadi bagian penting yang diajarkan dalam pembinaan para novis MSC.

Kongregasi MSC memindahkan novisiatnya dari Purbalingga ke Karanganyar, Kebumen sejak 24 Mei 1964. Meski demikian ulang tahun novisiat dijatuhkan pada setiap tanggal 8 Januari, sesuai dengan terbitnya surat izin dari Vatikan. Bangunan novisiat sendiri sebelumnya merupakan kantor sebuah bank dengan gaya kolonial yang kemudian dipugar pada tahun 1992.

Oleh Romo T. Padmowidjojo MSC, novisiat ini diberi nama “Sananta Sela”. Sananta artinya pencetakan atau pembentukan. Sela artinya batu. Sananta Sela memiliki makna tempat mencetak para biarawan MSC yang tangguh, keras, kuat dalam hidup rohani, kemanusiaan dan kebiaraannya. Seorang biarawan MSC mestilah menjadi batu penjuru tempat setiap pribadi di sekelilingnya dapat memetik teladan dan mendapatkan inspirasi seturut spiritualitas Hati Kudus Yesus.

Naik Turun
MSC Indonesia sebenarnya sudah memiliki novisiat sejak 1956 di Manado, Sulawesi Utara. Pada masa itu, terjadi pemberontakan Permesta di Sulawesi. Hal itu berakibat pada ketidakstabilan kondisi keamanan. Situasi itu memaksa para petinggi MSC memindahkan novisiat ke Purbalingga. Dalam perkembangannya, tempat novisiat di Purbalinggadirasa tidak memadai. Tarekat pun memutuskan untuk memindah novisiat ke Karanganyar, Kebumen.

Pada awal berdirinya hanya ada empat frater yang tinggal di novisiat. Itu pun merupakan novis pindahan dari Purbalingga.Perkembangan jumlah novis di masa-masa berikutnya menunjukkan pasang surut panggilan untuk menjadi utusan Hati Kudus Yesus. Pada tahun 1995, sempat ada empat puluh lima novis, sementara di tahun-tahun belakangan ini jumlah novis mengalami penurunan. Bahkan saat ini hanya ada empat novis. Untuk tahun ajaran baru 2015/2016 ada sembilan novis yang akan bergabung.

Menurunnya jumlah novis disebabkan antara lain karena kebijakan tarekat yang cukup ketat dalam proses seleksi. Sebenarnya minat panggilan masih cukup menjanjikan, terbukti daerah asal novis semakin beragam. “Kalau dulu dapat dikatakan didominasi wilayah Ambon, Jawa dan Papua, sekarang meluas ke wilayah Kalimantan dan Sumatera,” kata Romo A. Dwi Rahadi MSC, MagisterNovisiat Sananta Sela.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*