Artikel Terbaru

Beato Nunzio Sulprizio: Yatim Piatu Pandai Besi

Mohon Berkat: Umat berdevosi kepada Beato Nunzio Sulprizio.
[NN]

HIDUPKATOLIK.comSatu persatu keluarganya meninggal. Ia menyambung hidup sebagai pandai besi dan mengemis. Ia sakit hingga wafat di usia belia.

Satu persatu lempengan besi terurai menjadi pedang, mata lembing, dan tombak. Tak peduli dengan musim dingin yang kala itu membekap seluruh wilayah Pescara, Italia. Nunzio Sulprizio terus bersemangat mengayun dan menghantamkan palunya di atas potongan besi yang baru keluar dari tungku api. Percikan api pun bertebaran, suhu yang kian beku tak ia gubris.

Tiba-tiba tubuh mungil itu ambruk ke tanah. Nunzio menggigil kedinginan. Kaki kirinya bengkak. Tubuhnya lemas. Nunzio tak berdaya. Dengan sisa tenaga, ia berusaha menyelesaikan pekerjaannya. Ia ambruk, dengan merangkak ia gapai dipan di samping rumah, lalu ia berbaring.

Sang paman tak peduli melihat kondisi Beato Nunzio Sulprizio. Nunzio hanya diberi obat, kemudian dipaksa melanjutkan pekerjaan. Pamannya berprinsip, “Jika kamu tidak bekerja, kamu tidak makan!” Betul, pamannya tak memberinya makan. Nunzio mengemis roti pada tetangga untuk mengganjal perutnya.

Sekian lama membanting tulang Nunzio mengidap penyakit gangren di telapak kaki kirinya. Gangren adalah penyakit akibat suplai darah kejaringan tubuh berkurang. Meski begitu, ia masih terus bekerja sampai ajal menjemputnya pada 5 Mei 1836.

Tragedi Duka
Nunzio adalah anak pasangan Domenico Suprizio dan Rosa Luciana, pengrajin sepatu di Pescara. Semasa kecil, orangtuanya mengajarkan ketaatan. Karena itu, ia tumbuh menjadi anak yang gemar menolong sesama dan patuh pada orangtua. Kelahiran Pescosansonesco, Pescara, 13 April 1817 ini dididik di siplin dalam ajaran Katolik.

Pescosansonesco masuk dalam wilayah Abruzzo, Italia –suatu daerah berbatu dengan ketinggian 540 meter di atas permukaan laut. Topografi yang akhirnya turut membentuk karakter Nunzio menjadi pekerja keras. Namun sayang sebelum usianya empat tahun, ayahnya meninggal dunia pada Agustus 1820.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*