Artikel Terbaru

Merawat Keutuhan Bangsa

Merawat Keutuhan Bangsa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Akhir-akhir ini situasi Indonesia cukup riuh dengan ancaman disintegrasi bangsa. Seiring dengan gawai besar Pemilihan Kepala Daerah, gejolak politik yang kadang menghalalkan berbagai cara untuk memenangkan wakil kelompok, meningkat. Jika gejolak ini dibiarkan berlarut-larut, bisa disulut menjadi besar oleh kepentingan yang ingin negeri ini kacau dan berakibat fatal bagi kelestarian bangsa.

Kita tentu ingat ada beberapa negara di dunia yang kini terpecah-belah juga
dilanda perang akibat pertikaian antar kelompok. Ujung dari perang itu, negara mereka porak-poranda dan banyak rakyat kecil yang menjadi korban. Tak hanya itu, muncul pula masalah baru soal penanganan pengungsi yang merepotkan negara-negara tujuan para pengungsi.

Usaha pencegahan perang ini sebenarnya sudah dihimbau para Bapa Konsili Vatikan II yang termaktub di Gaudium et Spes (GS). Dalam konstitusi pastoral tentang Gereja dalam dunia modern ini, Bapa Konsili melarang perang dan berharap terciptanya kegiatan internasional untuk mencegah perang. Sebagai upaya preventif, Bapa Konsili juga mengajak segenap pihak untuk merawat persatuan bangsa agar tidak dilanda perpecahan.

“Memang banyak dan bermacam-macamlah orang-orang, yang berhimpun mewujudkan negara, dan dapat secara wajar merasa condong kepada pelbagai pendapat. Maka supaya jangan sampai, karena masing-masing mengikuti pandangannya sendiri, negara itu terpecah-belah, diperlukan kewibawaan, yang mengarahkan daya kemampuan semua warganya kepada kesejahteraan umum, tidak secara mekanis atau otoriter, melainkan sebagai kekuatan moril, yang bertumpu pada kebebasan dan kesadaran akan kewajiban serta beban yang telah mereka terima sendiri,” (GS art. 74).

Usaha merawat persatuan bangsa memang diperlukan guna mencegah disintegrasi bangsa serta menangkal aneka kepentingan yang berkehendak tidak baik terhadap keutuhan sebuah bangsa. Salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam konteks Indonesia, bisa dengan menularkan semangat persatuan para pendiri bangsa kepada generasi penerus. Usaha ini dapat dilakukan dengan menggali ajaran mereka. Jangan pula lupa akan peristiwa bersejarah, seperti Kebangkitan Nasional Indonesia 20 Mei 1908, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Akhir Maret ini, Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) telah selesai menjalankan regenerasi kepemimpinan. ISKA mengangkat tema “Revitalisasi Peradaban Pancasila Menuju Seabad Indonesia” yang membuktikan konsistensi ISKA dalam merawat persatuan bangsa. Selain itu, mereka juga telah menentukan pemimpin baru. Lewat kepemimpinan baru itu, ISKA dapat semakin meningkatkan upayanya dalam menjaga keutuhan bangsa.

Kita sadar, kelompok-kelompok Katolik memang kecil, namun kelompok kecil itu tidak boleh berdiam diri apabila melihat arah pembangunan yang melenceng. Dengan berpegang kepada kebenaran, kita juga jangan takut untuk kritis kepada pihak yang ingin merusak bangsa. Tentu, tidak hanya ISKA saja yang mengemban tugas ini, semua ormas Katolik, juga seluruh umat diharapkan ikut menegakkan cita-cita luhur pendiri bangsa demi terciptanya Indonesia yang satu, jaya, dan lestari.

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 15 Tanggal 9 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*