Artikel Terbaru

Istri Tolak Berhubungan Intim

HIDUPKATOLIK.comRomo Erwin yang terhormat, saya seorang suami. Usia pernikahan saya tujuh tahun. Sejak empat tahun lalu, ketika anak pertama kami lahir, istri menolak berhubungan seksual dengan saya. Saya sangat sedih dan kecewa, alasan penolakannya karena lelah dan merasa sakit pasca persalinan. Saya tak percaya dengan alasan itu. Akhir-akhir ini saya dekat dengan seorang perempuan, teman olahraga saya. Istri saya jarang berolahraga dan sering merasa tak sehat. Bagaimana kami bisa memperoleh kebahagiaan rumah tangga lagi?

Chrisantus Rudi, Semarang

Bapak Rudi yang baik. Saya prihatin dengan pengalaman keluarga Bapak. Pengalaman seksual adalah pengalaman asli dan natural dalam hidup perkawinan, sehingga jika pengalaman itu tak ada, maka perkawinan akan terganggu dan kesejahteraan akan berkurang, karena pengalaman intim dihilangkan.

Saya mengajak kita semua membuka pikiran dan perasaan akan pentingnya kehidupan seksual bagi setiap pribadi yang menikah. Mereka yang menikah
membutuhkan pengalaman seksual sepenting kebutuhan biologis lainnya. Jika ini tak ada, berarti ada sesuatu yang harus dipikirkan dan dibicarakan kedua pihak, karena perkawinan pada hakikatnya adalah “mereka bukan lagi dua, melainkan satu daging (Bdk. Kej 2:24).

Kedagingan bukanlah dosa dalam perkawinan, karena kesatuan badaniah ini justru menjadi hakikat pokok perkawinan. Mereka menikah karena saling mencintai dan kesatuan fisik ini sebagai puncak komunikasi. Betapa bahagia jika suami-istri memperoleh pengalaman komunikasi puncak dengan kesatuan badan dalam persenggamaan yang penuh cinta.

Ketika hubungan seksual tak ada, pasti sesuatu terjadi. Sesuatu itu tak boleh dianggap lumrah dan boleh terjadi. Jika hubungan seksual tak terjadi karena sakit yang diderita salah satu pihak, maka pihak yang lain harus menganggap pengalaman ini sebagai kedukaan atau sakit yang termasuk dalam janji perkawinan mereka. Akan tetapi jika bukan karena sungguh-sungguh sakit, maka otomatis relasi suami-istri dapat terganggu.

Gangguan bukan karena kebutuhan saja, tapi keinginan untuk bersatu itulah yang terganggu. Perkawinan adalah kesatuan antara cinta dan nafsu. Tanpa keduanya maka bukan perkawinan. Cinta tanpa nafsu adalah persahabatan, nafsu tanpa cinta adalah perkosaan, perzinahan, atau pelacuran.

Tuhan menganugerahkan kebutuhan bersatu dalam birahi para pasangan suami-istri (pasutri) dimaksudkan untuk menjamin kedekatan dan cinta kasih keduanya. Betapa bergunanya hubungan seksual dalam semua seginya bagi pasutri.

Meski pasangan sering beralasan sakit, lelah, atau trauma akan sesuatu, tapi keengganan berhubungan seksual tetaplah suatu masalah. Apalagi, Anda berdua masih muda dan dalam tahun-tahun perkawinan awal. Sangat tak wajar jika istri Anda mengatakan, tak mampu karena rasa sakit. Jika benar sakit, maka dia harus berobat dan membuka pintu penyembuhan.

Kebutuhan Anda bukanlah suatu tawaran bagi istri, melainkan suatu kewajiban bagi Anda dan istri untuk menunaikannya. Jika terlalu lama berhenti berhubungan, maka hidup seksualitas menjadi terguncang dan abnormal. Paling tidak, saya memperkirakan bahwa selama ini Anda melakukan masturbasi untuk mengganti kebutuhan seksual terhadap istri.

Dalam kasus ini juga, malahan Anda mempunyai teman selingkuhan yang barangkali telah menjadi teman seksual juga. Tentu ini salah dan berdosa. Kisah Anda menjadi bukti bahwa kurangnya hubungan seksual bisa membawa dampak perselingkuhan yang parah, bahkan perceraian.

Bicaralah dengan pasangan tentang kemungkinan ini. Katakanlah dengan bahasa kasih, tulus, dan bahkan memohon pengertiannya agar rumah tangga dapat dilanjutkan dengan normal. Jika perlu, berkonsultasilah dengan seorang ahli, dokter, atau psikolog yang dapat membantu Anda berdua. Semoga keadaan segera menjadi lebih baik. Tuhan memberkati.

Alexander Erwin Santoso MSF

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 10 Tanggal 5 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*