Artikel Terbaru

Beato László Batthyány-Strattmann (1870-1931): Kastil untuk Orang Miskin

Beato László Batthyány-Strattmann.
[blessedlászló.id]

HIDUPKATOLIK.com“Bawa aku ke balkon rumah supaya aku bisa berteriak ke seluruh dunia bahwa Tuhan itu baik.” Ia mendedikasikan diri dan profesinya bagi orang-orang miskin.

Orang miskin masuk kastil mewah. Sebuah pemandangan aneh. Sebab, biasanya kastil bukan untuk orang miskin. Hunian itu biasa ditempati kaum berdarah biru. Tetapi tidak untuk Kastil Kormend di Republik Hungaria. Orang miskin bebas keluar masuk kastil itu. Bahkan mereka bisa beristirahat bila sakit. Banyak bangsawan lain berceloteh, “Ini sebuah kegilaan. Mana bisa kaum bangsawan duduk semeja dan tidur seruangan dengan orang miskin?”

Tapi apa yang tak mungkin bagi kaum bangsawan menjadi mungkin bagi dokter berhati mulia, László Batthyány-Strattmann. Ia merawat orang miskin di kastil secara gratis. “Tidak punya uang, datang saja, asal Anda bisa berdoa Rosario,” pesan László kepada orang miskin. Sebagai ganti biaya perobatan, ia meminta orang miskin berdoa Rosario dan rajin mengikuti Misa.

Keluarga Aristokrat
László lahir di Kota Dunakiliti, perbatasan Republik Austria dan Republik
Hungaria (Magyarország), pada 28 Oktober 1870. Keluarga Batthyány masih
tercatat sebagai keluarga aristokrat Hungaria. Sejak kecil, László dibesarkan
dalam kemewahan kerajaan. Tidak saja kemewahan, didikan aristokrat yang keras pun dicecap László. Ada pandangan, “Negara harus dipimpin para ningrat. Rakyat kecil hanya pelengkap.” Tak heran, pride sebagai aristokrat membuat keluarga Batthyány selalu memandang sebelah mata masyarakat miskin.

Situasi ini berlangsung hingga keluarga László pindah ke Republik Austria pada 1876. Di negara Eropa Tengah ini, László diajarkan harus menjadi kelas utama. Ada sedikit perasaan welas ketika ia melihat begitu banyak orang miskin bergelimpangan di pinggir jalan. Tetapi László diam, terpaku, dan tak bisa berbuat banyak. Tapi suatu ketika, ayahnya menjalin hubungan khusus dengan seorang perempuan muda beragama Protestan. Demi gebetan barunya itu, sang ayah pergi meninggalkan mereka.

Ini menjadi berkah bagi László. Ketiadaan sang ayah membuat rasa iba kepada orang miskin semakin kuat. Pelan-pelan László menolak kebiasaan-kebiasaan yang diajarkan oleh sang ayah. Suatu hari, László berkata kepada ibundanya, “Bila saya sudah besar, saya akan membantu masyarakat miskin untuk mendapat penghidupan yang layak.” Sayang sekali berita gembira ini menjadi berita duka, karena beberapa hari kemudian sang ibu berkalang tanah untuk selamanya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*