Artikel Terbaru

Refleksi Prapaskah Politikus Katolik

HIDUPKATOLIK.com – Gereja Katolik memasuki masa Prapaskah. Pada masa ini, umat diajak untuk me-review praksis iman. Hal itu harus memberi efek restoratif, secara internal (ke dalam diri) serentak eksternal (sosial). Tidak bermaksud mengabaikan aspek universal Prapaskah, dalam tulisan ini, saya hanya berfokus mengulas relasi antara Prapaskah dan tindakan politik politikus Katolik. Tesis dasar tulisan ini adalah Prapaskah bisa dijadikan oleh politikus Katolik sebagai momentum merefleksikan tindakan politik altruis yang mengutamakan kepentingan orang banyak.

Merujuk Sikap Yesus
Harus diakui bahwa politik tanah air kita akhir-akhir ini sedang mengalami abrasi dalam skala besar. Para elit politik menjadi aktor antagonis yang melahirkan kondisi-kondisi distortif-reduktif. Ada ketakutan, politikus Katolik juga terjebak dalam hal seperti itu. Jangan sampai mereka terlibat dalam mendesain kondisi-kondisi yang mendekonstruksi orientasi etik, humanis, edukatif, dan rasional dari politik.

Karena itulah politikus Katolik mesti menjadikan Yesus sebagai rujukan. Kendati dalam kiprah-Nya, Yesus tidak secara eksplisit menampilkan sikap politik, tetapi jika membaca dan merekonstruksi tindakan-Nya, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya praksis pewartaan Yesus tak terlepas dari politik. Yesus menampilkan sikap politik yang “berbeda” dengan praktik politik elit Yahudi. Perhatian Yesus yang istimewa adalah orang-orang kecil yang miskin dan bersahaja serta yang menderita sakit dan lapar (Bakker, 1988). Yesus juga seringkali melontarkan kritikan terhadap berbagai deviasi dalam ruang sosial Yahudi. Dia tidak takut berkonfrontasi. Alhasil, Yesus didiskreditkan dan akhirnya kehilangan nyawa.

Hal-hal seperti inilah yang mesti menjadi referensi politikus Katolik dalam berkiprah. Sebagaimana Yesus, perhatian mereka adalah kepentingan banyak orang. Mereka tidak bertindak untuk kepentingan parsial-pragmatis. Mereka mesti memastikan bahwa politik menjadi instrumen artikulatif-akomodatif sesuai cita-cita demokrasi.

Politik adalah instrumen luhur di mana politikus Katolik bisa menjabarkan cita-cita bagi kebaikan kolektif. Hal inilah yang disentil Konsili Vatikan II dalam dekrit tentang Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem/AA) art.2: “…kaum awam ikut serta mengemban misi imamat, kenabian, dan rajawi Kristus, menunaikan bagian mereka dalam perutusan segenap umat Allah dalam Gereja dan di dunia.” Politikus Katolik merupakan awam terbaptis yang diandalkan untuk menjadi “garam dan terang dunia” (Mat 5:13-16). Mereka dipercayakan untuk mengemban misi liberatif.

Pengorbanan
Karenanya, politikus Katolik mesti menjadikan masa Prapaskah ini sebagai momentum untuk mengembalikan politik kepada fitrahnya, serta merevitalisasi perjuangan politik. Mereka harus “membersihkan” diri dari praksis-praksis politik destruktif. Seperti Kristus yang berkorban bagi kepentingan manusia, demikian jugalah politikus Katolik. Mereka mesti menampilkan diri sebagai awam Katolik yang selalu berorientasi dan berkorban bagi rakyat. Mereka mesti menjadi saksi Kristus. Menjadi saksi Kristus berarti hadir serta hidup dan bekerja dalam semangat Kristus (Magnis-Suseno, 2004).

Konsekuensinya, mereka harus berani melakukan otokritik jika selama ini menjadi aktor antagonis yang menyebabkan lahirnya distorsi demokrasi dan tidak berorientasi pada kebaikan bersama. Masa Prapaskah harus mengembalikan mereka kepada jalan yang benar untuk lebih massif dan solid memperjuangkan kepentingan banyak orang. Memang, kalau melihat jumlah, politikus Katolik masih sangat sedikit. Namun, non multa, sed multum; bukan jumlah, tapi terutama mutu sumbangan mereka bagi kebaikan. Selain itu, Gereja juga perlu memberi perhatian serius-berkelanjutan kepada mereka. Pastoral khusus untuk para politikus Katolik harus tetap dilakukan. Dengan begitu, Gereja membantu mereka untuk tetap menjadi saksi Kristus sejati yang memiliki semangat pengorbanan.

Inosentius Mansur

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 10 Tanggal 5 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*