Artikel Terbaru

Kolonel (Pnb) Ignatius Wahyu Anggono: Mantan Misdinar Jadi Penerbang

Kolonel (Pnb) Ignatius Wahyu Anggono.
[NN/Dok.Pribadi]
Kolonel (Pnb) Ignatius Wahyu Anggono: Mantan Misdinar Jadi Penerbang
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Saat kecil ia rajin menjadi misdinar. Ia kini penerbang handal TNI Angkatan Udara. Ia memiliki pengalaman terbang lebih dari 5000 jam.

Suatu hari Kolonel Penerbang Ignatius Wahyu Anggono menerbangkan pesawat Hercules dari Pekanbaru, Riau menuju Madiun, Jawa Timur. Sial, ketika hendak mendarat, roda Hercules tak mau keluar. Kepanikan melanda seisi pesawat. Penumpang yang mayoritas perempuan mulai menangis histeris.

Sembari menenangkan 30 penumpang, Wahyu berupaya menjalankan semua petunjuk menghadapi situasi darurat. Upaya itu tidak membuahkan hasil, setelah berjibaku, roda pesawat bisa dipaksa keluar seperempat. Bersama kru pesawat, Wahyu mengikat roda agar tidak masuk lagi. Sementara di lapangan udara, tim medis dan pemadam kebakaran telah bersiap menghadapi situasi paling buruk.

Di dalam kokpit, Wahyu merapalkan doa sebelum mendaratkan pesawat. Puji Tuhan, pesawat mendarat sempurna. Semua penumpang selamat. “Saya benar-benar stres. Itu pengalaman yang luar biasa menegangkan. Hidup dan mati pesawat ada di tangan saya,” ucap anak kedua dari tiga bersaudara ini mengenang.

Apresiasi pun mengalir setelah ia berhasil menyelamatkan penumpang dari musibah. Tapi Wahyu tak menceritakan peristiwa menegangkan itu kepada sang istri. “Istri saya baru tahu satu minggu setelah kejadian. Itupun diberitahu ibu-ibu yang menjadi penumpang,” tutur ayah dua anak ini sembari menebar senyum.

Menjadi penerbang
Menjadi penerbang awalnya bukan cita-cita Wahyu. Ia ingin menjadi arsitek. Lambat laun cita-cita itu pudar. Ia tinggal di lingkungan militer, situasi yang memberi pengaruh besar terhadap masa depan Wahyu. Ayahnya seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas di Pusat Pendidikan Kesehatan TNI Jakarta. Selepas Sekolah Menengah Atas, Wahyu berhadapan dengan dua pilihan. “Masuk ke Polisi atau Angkatan Udara. Tapi akhirnya, saya memilih masuk Angkatan Udara,” ujarnya.

Di Akademi Angkatan Udara, Wahyu masuk kelas elektronika dan dinyatakan lulus pada 1992. Ia juga lolos seleksi calon penerbang dan masuk ke Sekolah Penerbang TNI AU selama 17 bulan. Di sekolah penerbang, Wahyu belajar menerbangkan tiga jenis pesawat, yaitu Bravo, Charlie, dan Hawk. Setelah lulus, ia ditugaskan menjadi penerbang pesawat angkut Hercules C-130 di Skuadron Udara 32 Lapangan Udara (Lanud) Abdulrahman Saleh Malang, Jawa Timur.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*