Artikel Terbaru

Bela Negara

Bela Negara
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com“Geredja Roem Katoelik itoe soeatoe perserikatan Agama, jang berhamboeraan di mana-mana tempat di seloeroeh doenia ada dengan membedakan basa dan bangsa. Adapoen Pembesar Geredja Roem Katoelik pada waktoe sekarang ini, jaitoe Sri Baginda Jang Terseotji Paus Pius ke XII, jang bertachta dalam istana keradjaannja di kotaVatikana Roma. Sebagai Radja Sri Baginda Paus Pius berhoeboengan baik bersoenggoeh hati dengan Maha Keradjaan Dai Nippon. Sebab itoe Maha Keradjaan Dai Nippon mempoenjai Wakil di Roma jaitoe Padoeka Toean Ken Hanada, dan Singasana Soetji mempoenjai oetoesan di Tokio ja’ni Mgr Paul Marella…

Dari pada itoe Geredja Roem Katoelik di tanah ini tidak oesah memohon pengakoean Bala Tentara Dai Nippon. Sebab Geredja Katoelik jang berada di tanah Nippon dan daerahnja itoe sama sadja dengan jang bertemoe di tanah-tanah jang dita’loekkan oleh Bala Tentara Dai Nippon. Di antero doenia hanjalah satoe Perserikatan Roem Katoelik, jang disebut Geredja Roem Katoelik.”

Ini cuplikan surat yang ditulis Mgr A. Soegijapranata pada 17 Juli 1943 kepada penguasa pendudukan Jepang, yang menganggap Gereja Katolik sebagai antek Belanda. Gereja saat itu menghadapi ancaman penyitaan dan pengambilalihan oleh tentara pendudukan Jepang, sebab semua yang berbau Barat dicurigai sebagai lawan. Surat Soegijapranata ini menyelamatkan Gereja dari nasib buruk, dan umat dapat tetap beribadah tanpa gangguan.

Apakah Tuhan perlu dibela? Tidak, sebab Tuhan Maha Kuasa dan mampu membela diri sendiri dari kekuatan apapun. Tuhan memiliki bala tentara sendiri yang terlatih dan berpengalaman memerangi pasukan iIblis. Apakah Gereja perlu dibela? Ya, dalam situasi genting yang mengancam kelangsungan hidup, seperti dilakukan Soegijapranata dengan surat tersebut. Gereja bukan institusi yang memiliki sarana dan kemampuan membela diri dari ancaman, maka saat seperti itu warga Gereja boleh berinisiatif melakukan pembelaan. Soegijapranata menggunakan kertas dan tinta untuk membela Gereja, melawan bala tentara Jepang yang hendak memberangusnya.

Apakah negara perlu dibela? Negara memiliki kekuatan bersenjata yang sengaja dilatih dan disiapkan untuk melakukan pembelaan jika diserang atau ada ancaman nyata. Negara juga memiliki berbagai institusi dan perangkat hukum untuk menjaga agar ia tidak mudah digoyah ataupun dilecehkan. Negara ada untuk melindungi rakyat yang telah bersedia menjadi warganya dan bekerja keras untuk memajukan. Bukan sebaliknya. Jadi, tidak tepat jika warga melakukan pembelaan atas negara.

Tentu saja seribu satu lawan bisa dijejer, seperti komunisme, fundamentalisme, separatisme, liberalisme, neoliberalisme, premanisme, atau narkoba, pedofilia, korupsi, begal, mafia, perdagangan manusia, dan lain-lain. Namun, bahkan dalam semua itu, sebaiknya rakyatlah yang dilindungi negara, bukan justru dijadikan “perisai hidup” untuk menangkis semua bahaya itu. Apalagi jika bicara tentang kemungkinan invasi militer negara lain, yang saat ini tidak perlu dikhawatirkan akan terjadi atas Indonesia. Di Amerika Serikat, Amandemen Kedua dalam konstitusi bahkan memberikan hak kepada warga untuk memiliki senjata, terutama dipakai melawan negara jikalau negara melakukan penindasan terhadap warga sendiri.

Di media sosial akhir-akhir ini beredar gambar dua orang petani sedang mencangkul tanah padas dengan bermandi peluh. Dalam meme ini terdapat tulisan dalam bahasa Jawa, “Iki yo bela negara, rumangsamu piknik! (Ini juga bela negara, kiramu ini piknik!).” Maka, mendidik rakyat agar mampu berpikir jernih dan sehat, seperti Soegijapranata, atau mau bekerja keras, seperti dua petani dalam meme itu, tampaknya lebih genting dilakukan daripada memaksa jutaan orang latihan baris-berbaris ala militer dalam rangka membela negara. Saat ini, negara yang justru sedang memerlukan akal sehat untuk memutuskan, apakah dirinya begitu lemah sampai perlu dibela warganya? Negara yang tak punya cukup kepercayaan diri adalah calon negara gagal.

Manneke Budiman

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 45 Tanggal 8 November 2015

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*