Artikel Terbaru

Sr Marie Andrea Pandiangan KYM: Bonbon untuk Sahabat

Buah Kesetiaan: Sr Andrea KYM memegang piagam penghargaan dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Sumatera Utara. <br. [Fr Nicolaus Heru Andrianto]

HIDUPKATOLIK.com – Lebih dari 20 tahun ia keluar-masuk bui. Berkat totalitas pelayanannya, ia mendapat penghargaan dari Kemenkumham. Biarawati ini selalu membawa bonbon ke lapas.

Sejak 1990 hingga kini, Suster Marie Andrea Pandiangan KYM rutin keluar-masuk Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A, di Jalan Asahan Km 7 No 8, Pematangsiantar, Sumatera Utara. Ia bu kanlah residivis. Biarawati kelahiran Siantar, 85 tahun silam itu melawat ke bui untuk bertemu para sahabatnya.

Sahabat, demikian Sr Andrea menyebut para narapidana. Baginya, alasan penyebutan itu sederhana. Andai kata mereka jahat, tak mungkin ia bisa pulang-pergi penjara dengan selamat. Atau jika para benduan keji, tak berani ia kesana untuk mempertaruhkan diri. Toh, karya pastoral ini sudah ia lakoni selama lebih dari 20 tahun.

Pesan Bonbon
Setidaknya seminggu sekali, Sr Andrea melawat para sahabatnya yang mendekam di balik jeruji besi. Dalam setiap kunjungan, ia selalu menggandeng rekan suster sekomunitasnya di Biara St Laurentius Pematangsiantar. Sr Andrea juga mengajak frater dan anggota Legio Mariae ke “hotel prodeo” itu.

Pakaian bekas layak pakai atau makanan jadi buah tangan saban kunjungan mereka kelapas. Namun, ada satu bawaan yang tak tergantikan, yakni bonbon (permen). Sr Andrea selalu membawa bonbon di dalam tas hitamnya. Begitu tiba di lapas, ia pun mulai membagikan bonbon kepada para warga binaan.

“Jika satu orang mendapat satu bonbon, maka yang lain harus pula diberi,” ungkapnya. Situs Sistem Database Pemasyarakatan, www.smslap.ditjenpas. go.id melansir, penghuni di lapas khusus narkotika dan obat-obatan terlarang itu pada September 2015 berjumlah 376. Dari jumlah itu, 7,5 persen beragama Katolik.

Sebetulnya, bonbon Sr Andrea biasa-biasa saja. Rupa dan rasa bonbon itu bisa didapat di warung atau toko manapun. Lantas, mengapa bonbon terasa istimewa sehingga oleh-oleh lain tak sanggup menggeser posisinya dari dalam tas biarawati sepuh itu selama lebih dari 20 tahun?

Ternyata, ada pesan yang terkandung dalam kembang gula itu. “Warga binaan perlu mendapat kemanisan hati dari para pemberi, baik makanan atau apapun itu”, imbuhnya. Namun sang suster segera menambahkan, ‘‘kemanisan” hati jangan disamakan dengan bonbon, sebab rasa manis kembang gula bisa berubah jadi tawar atau habis bila semakin sering diisap. Beda dengan kemanisan hati, keutamaan itu harus terus terasa oleh siapa, di mana, dan kapan pun.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*