Artikel Terbaru

Seminari Masih Perlu Berbenah

Para Uskup mengikuti prosesi Misa 100th Seminari Menengah Mertoyudan.
[NN/Dok.Seminari Mertoyudan]
Seminari Masih Perlu Berbenah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAda puluhan seminari menengah di Indonesia. Masing-masing mempunyai tantangan tersendiri. Lembaga-lembaga pendidikan ini berjuang menelurkan imam yang berkualitas.

Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, sudah berusia satu abad lebih. Tahun ini adalah ulang tahun yang ke-106 tahun. Seminari ini berdiri pada 1911. Dalam rentang waktu tersebut, Seminari Mertoyudan sudah menelurkan banyak uskup, imam, dan tokoh masyarakat. Salah satunya adalah Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo. Mgr Suharyo menjalani pendidikan di Seminari Mertoyudan pada 1961-1968.

Dalam buku Para Pelukis Cakrawala, Persembahan 100th Seminari Mertoyudan, Mgr Suharyo menuliskan sebagian kecil pengalaman di almamaternya itu. Katanya, di sana semua siswa dibantu untuk berkembang menjadi semakin matang dan utuh dalam kepribadian dan kedewasaan. Perkembangan ini sesuai dengan semboyan Seminari Mertoyudan, yakni SSS: Sanctitas-kesucian, Sanitas-kesehatan, dan Scienta-pengetahuan.

Mgr Suharyo juga menceritakan pengalaman sembilan bulan bertugas di seminari sebagai sub-pamong. Di sana ia bertugas sebagai guru bahasa Latin, Geometri, dan Aljabar. “Guru yang tidak memiliki keahlian, apalagi ijazah apapun dalam bidang ajar itu. Bisa dikatakan, saat itu saya menjadi guru darurat,” tulis Mgr Suharyo.

Pendiri surat kabar Kompas, Jacob Oetomo, juga alumnus Seminari Mertoyudan, 1945-1952. Jacob turut mengamini semboyan seminari tersebut. “Buat saya, semboyan itu benar-benar memegang peran penting dalam pembentukan karakter diri saya, sehingga saya, ya bisa seperti sekarang ini dengan perjalanan hidup yang berliku-liku,” ujar Jacob.

Melahirkan banyak tokoh nasional tak membuat Seminari Mertoyudan lupa diri. Para formatornya tetap mawas dan terus berbenah agar tetap unggul sebagai tempat menyemai gembala masa depan Gereja. Rektor Seminari Mertoyudan Romo Gandhi Hartono SJ mengatakan, Seminari Mertoyudan pernah mengalami periode sulit. Ketika itu sangat sedikit peminat yang mau masuk seminari, misal pada 2003-2007 jumlah siswa Seminari Mertoyudan hanya 156 orang.

Menghadapi kenyataan itu, Seminari Mertoyudan mencoba mengevaluasi diri dengan memperbaiki tata kelola, sistem pendidikan, sumber daya manusia, dan promosi panggilan ke Paroki-paroki. Proses pembenahan diri memakan waktu kurang lebih dua tahun. Pada penerimaan siswa Tahun Ajaran 2009/2010, jumlah pendaftar meningkat. “Tahun ini, yang ikut seleksi mencapai 200 orang. Sekarang seminaris di Mertoyudan berjumlah 281 orang. Idealnya, kapasitas seminari bisa menampung 280 orang,” ujar Romo Gandhi yang sudah empat tahun menjabat rektor.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*