Artikel Terbaru

Mgr Ludovicus Simanullang OFMCap: Jantung Seminari Terus Berdetak

Mgr Ludovicus Simanullang OFMCap.
[Dok.HIDUP]

HIDUPKATOLIK.comTempo dulu, seminari menjadi pilihan utama anak-anak untuk melanjutkan pendidikan. Tetapi belakangan ini, kualitas lulusan seminari menjadi bahan pergunjingan.

Seorang imam disebut juga alter Christus, Kristus yang lain. Dengan menyandang status ini, seorang imam dituntut mempunyai kecakapan yang mumpuni. Yang paling penting adalah Tiga “S” , Sanctitas, Sanitas, dan Scientia. Artinya, seorang imam harus sehat secara rohani, jasmani, dan intelektual. Semua kecakapan itu diperoleh ketika dididik di seminari. Sayang, perkembangan zaman menjadi tantangan utama bagi persiapan seorang calon imam. Bagaimana peran seminari sebagai jantung Keuskupan? Berikut petikan wawancara dengan Ketua Komisi Seminari Konferensi Wali-gereja Indonesia (KWI) Mgr Ludovicus Simanullang OFMCap:

Bagaimana perkembangan pendidikan di seminari akhir-akhir ini?

Pola pendidikan di seminari sekarang berubah seiring perubahan pola pendidikan. Pada masa lalu, seminari menjadi lembaga pendidikan terkemuka. Sekarang, tren itu lama-lama hilang. Tentu semua berawal dari arus globalisasi yang begitu besar. Era ini menawarkan banyak tantangan di bidang pendidikan. Tetapi paling penting, jangan sampai ikut terseret arus globalisasi. Karena itu, agar punya daya tarik dan daya pikat, seminari harus dibangun menjadi lembaga pendidikan yang bermutu dan unggul.

Apakah pendidikan humaniora di seminari masih kurang?

Tentu salah satu kelemahan yang dihadapi seminari adalah pendidikan humaniora. Padahal dimensi ini sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan. Ini berbeda di setiap seminari. Hal lain, di daerah misi, pendidikan humaniora mempunyai tantangan besar. Bisa dibayangkan hasilnya seperti apa kalau suatu sekolah jumlah muridnya 600 orang dan hanya dilayani tiga guru? Dampaknya kemudian sangat terasa pada sisi intelektual, kepribadian, latihan menemukan persoalan, daya analisa, pengembangan bakat dan talenta. Semua ini akan sangat kurang, karena tenaga formator yang minim.

Apa yang menjadi tantangan para seminaris untuk menjadi imam saat ini?

Ada banyak hal yang menjadi tantangan. Tetapi paling berpengaruh soal motivasi awal masuk seminari. Banyak seminaris tidak punya motivasi waktu awal saat menjalani formasi pendidikan calon imam.

Mereka hanya ikut-ikutan masuk seminari atau hanya untuk membuat keluarga bangga. Tantangan lain, banyak seminaris yang sakit-sakitan. Ini tentu memengaruhi usaha mereka menjadi imam.

Kabarnya, ada beberapa seminari yang mengalami kesulitan finansial?

Kalau dikatakan banyak seminari kekurangan dana, memang benar. Ada seminari yang bahkan belum memiliki perpustakaan sendiri, ruang laboratorium, ruang makan, tempat tidur, dan lainnya. Belum lagi harus membayar gaji guru dan karyawan serta perbaikan gizi. Ada seminari yang terpaksa setiap pagi hanya makan bubur dan sebulan sekali para seminaris minum susu. Para rektor atau pimpinan seminari pun tidak banyak berharap pada orangtua. Ini tentu memprihatinkan dan harus segera dibantu.

Apa yang dibuat Komisi Seminari?

Pertama, akhir-akhir ini Komisi Seminari KWI terus mengadakan kursus dasar formator untuk rektor, staf pembina di seminari. Ini penting, mengingat kemampuan tiap rektor berbeda sehingga perlu menyamakan visi-misi. Kedua, kami selalu mengharapkan kepada setiap Keuskupan untuk menyebarkan kolekte setiap kali Misa untuk membantu seminari. Ketiga, ada gerakan, seperti Gerakan Orang Tua Asuh Seminari (GOTAUS), dan lainnya, yang sangat membantu. Saya berharap, umat Katolik Indonesia tergerak membantu pendidikan calon imam ini.

Yusti H. Wuarmanuk

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 11 Tanggal 12 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*