Artikel Terbaru

Iman Alam Semesta

HIDUPKATOLIK.comTema APP 2017 adalah “Keluarga yang Berwawasan Ekologis”. Kesan saya, hanya Gereja Katolik yang menghubungkan iman dengan ekologi, sedangkan saudara-saudari kita yang Kristen tidak repot-repot dengan ekologi, padahal kita mempunyai Kitab Suci yang sama dan percaya pada Yesus yang sama. Mengapa? Apakah mengaitkan iman dan ekologi itu mempunyai dasar biblis?

Theresia Maria Agusetyarini, Malang

Pertama, Kitab Suci dan Mesias yang sama memang tidak menjamin bahwa akan ada selalu kesamaan dalam hal pengertian, penghayatan, dan ungkapan iman, karena penafsiran dan penekanan tafsiran bisa berbeda-beda, bahkan bisa bertolak belakang. Hal ini nampak dari adanya banyak perbedaan ajaran antara Gereja Katolik dengan Gereja-gereja Kristen lainnya. Bagaimanapun juga, pasti Gereja Katolik mendasarkan ajaran-ajaran pada Kitab Suci, karena Kitab Suci adalah jiwa Gereja. Hubungan iman dan ekologi bisa dilihat dalam hubungan manusia dengan alam semesta, baik dalam kisah penciptaan, kejatuhan ke dalam dosa, dan penebusan manusia.

Kedua, hubungan erat antara iman dan ekologi nampak dalam kisah penciptaan. Sebelum menciptakan manusia, Allah terlebih dahulu menciptakan alam semesta sebagai tempat tinggal (Kej 2:8,15) “taman” manusia. Allah membuat semua itu baik (Kej 1:4,10, 12,18,21,25), bahkan sesudah manusia diciptakan, semua ciptaan itu menjadi sungguh amat baik (Kej 1:31). Kedekatan manusia dengan alam semesta juga nampak dari kenyataan bahwa manusia diciptakan dari “debu tanah” (Kej 2:7), yang juga merupakan “asal usul” dari segala ciptaan lain.

Allah memberikan perintah kepada manusia, “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kej 1:28). Karena manusia diciptakan sebagai citra Allah, maka menaklukkan dan menguasai alam semesta harus dilakukan dengan cara seperti yang dilakukan Allah sendiri, artinya bukan dengan memanipulasi atau mengeksploitasi secara semena-mena, tetapi dengan tetap memelihara keharmonisan manusia dengan alam semesta dan kelestarian alam semesta itu sendiri. Hal ini secara jelas diungkapkan dalam penugasan manusia: “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kej 2:15). “Mengusahakan dan memelihara” itu seperti hamba yang melayani secara hati-hati dan penuh perhatian.

Ketiga, Kitab Suci mewahyukan bahwa ketika diciptakan, manusia berada dalam situasi harmonis dengan alam semesta. Keselarasan ini dirusak dosa manusia. Akibat dosa antara lain dilukiskan, wanita akan bersusah-payah waktu mengandung, mengalami kesakitan waktu melahirkan, tanah menjadi terkutuk sehingga manusia harus bersusah-payah mencari makan (Kej 3:16-19). Dosa menyebabkan hubungan manusia tidak selaras, bukan hanya dengan Allah dan sesama manusia, tetapi juga dengan diri sendiri dan alam semesta (bdk. Reconciliatio et Paenitentia, 4,8, 15,26,31).

Keempat, kerusakan rangkap empat oleh dosa mengindikasikan bahwa penebusan Yesus Kristus juga ditujukan untuk memulihkan ketidakselarasan rangkap empat itu. Berbicara tentang Sakramen Rekonsiliasi, Katekismus 1469 merujuk kepada pendamaian rangkap empat dengan mengutip Ensiklik Reconciliatio et Paenitentia 31, yang berkata: “Pendamaian dengan Allah ini seakan-akan mengakibatkan bentuk-bentuk pendamaian lain… didamaikan… dengan diri sendiri,… dengan saudara-saudaranya,… dengan seluruh ciptaan.” Rasul Paulus menggambarkan situasi alam semesta yang juga menunggu saat kepenuhan penebusan melalui manusia, yang telah “menerima karunia sulung Roh” (Rm 8:22-23). Kepenuhan penebusan akan melingkupi pembaruan seluruh alam semesta, yang diungkapkan dengan datangnya langit dan bumi yang baru. Jelaslah, bahwa iman tidak bisa dipisahkan dari ekologi.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 11 Tanggal 12 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*